Sunday, July 5, 2020

NAVICULA: A TRIBUTE TO LOCAL INSPIRATION



Soundtrack hidup dari era 90-an, yang mengenalkan kembali apa itu indie: attitude adalah segalanya, dan ada banyak musik bagus tapi mereka adalah musik keren.

Bencana Pandemi Covid-19 memporak-porandakan ekonomi, bukan hanya Indonesia tapi global. Kita terpaksa “dirumahkan”.

Tapi setiap masalah selalu ada hikmahnya. Banyaknya waktu untuk berada di rumah membuat kita memiliki lebih banyak waktu untuk merenung, melihat ke dalam dan menjadi kreatif untuk bertahan.  Kita mulai mengamati potensi apa saja yang ada di sekitar kita dan memetakan value-value yang ada.

Saya yang musisi, mulai menata kembali isi studio musik di rumah, yang sebelum pandemi hampir selalu berantakan, karena rumah sering ditinggal.

Saat saya membongkar koleksi kaset, saya mengenang ada banyak sekali band/musisi yang telah mempengaruhi musik yang saya buat bersama Navicula sejak awal berdiri Navicula di tahun 1996.

Band-band ini, Koil, Kubik, Cherry Bombshell, Pas Band, Nugie, Plastik, Superman is Dead, LFM, dan banyak lagi band-band Indonesia yang telah memberi kuat sekali pengaruh ke industri musik tanah air.

Saya tertarik dengan istilah Indie atau independent, karena Pas Band yang mempopulerkannya saat itu. Saya merasakan dan melewati melankolia ABG saat itu dengan lirik lagu Matel dari Kubik. Nongkrong dengan sahabat-sahabat sambil membawakan lagu Plastik. Terpesona dengan “attitude” dan lirik kelam dari Koil. Dan, band saya Navicula, sama- sama meniti karir dari nol dan ikut serta sejak awal mendirikan dan membesarkan skena musik indie di kampung halaman kita, Bali, bersama rekan seperjuangan kita, Superman is Dead.

Sejak itu, saya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA (atau kelas 11 sekarang), dan memiliki mimpi-mimpi indah untuk bisa tetap ngeband hingga tua.  

Band-band yang saya dengar sejak SMA inilah yang menemani mimpi-mimpi ini. Yang membuat musik dan menjadi anak band adalah sesuatu yang sangat berarti. Uang dan waktu kita habis di musik. Jika ada yang bilang bahwa agamamu adalah dimana waktu dan uang kita dihabiskan, maka jelaslah peran musik bagi kami saat itu. Bahkan hingga saat ini.

Musik adalah soundtrack hidup. Masa remaja adalah masa terbaik kita menyerap pengaruh dari lingkungan; apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Lagu-lagu yang kamu dengar saat remaja bisa jadi adalah playlist di hatimu selamanya.

Tanpa band-band ini, Navicula bukanlah Navicula yang kita dengar sekarang.
Sekarang, di waktu ini, di studio rumah, saya mengajak saudara-saudara saya di band untuk menyiapkan altar, menyalakan lilin, membuat ritual konser dan rekaman. Kita membuat sebuah perayaan bagi INSPIRASI.



A Tribute to Local Collaboration 
Saat kita kebingungan dengan tidak tersedianya produk sanitasi, petani arak menyediakan solusi, dan kolaborasi adalah kunci di saat pandemi.Dampak pandemi pada setiap orang berbeda-beda, sesuai dengan wilayah tempat tinggal, bidang pekerjaan, jumlah penghasilan, serta hubungan keluarga dan pertemanan.

Masyarakat urban dengan pendapatan harian dan kebutuhan sehari-harinya bergantung pada apa yang tersedia di warung, pasar, atau swalayan jauh lebih terdampak secara ekonomi dan kualitas hidup dibanding dengan masyarakat petani yang tinggal di pedesaan.

Di Bali, industri pariwisata dan hiburan, termasuk event, adalah yang paling terpuruk.Untuk saya, yang juga berprofesi sebagai musisi, bisa dibilang berkurang secara uang, namun di sisi lain bertambah secara waktu. Entah itu waktu bersama keluarga, waktu untuk kesehatan diri sendiri, waktu istirahat, ataupun waktu kreatif untuk memberdayakan apa saja yang ada di sekitar, serta mengingat-ingat bakat terpendam, menggali kemampuan dan potensi yang terlupakan.

Di era pandemi ini, bagian-bagian yang retak dan rapuh pada sistem semakin terlihat jelas. Ketergantungan pada impor akan barang-barang vital, seperti bahan pangan menjadi hal yang sangat rentan. Berkurangnya lahan-lahan produktif akibat alih fungsi lahan menjadi ancaman serius bagi stok pangan.

Kekuatan yang ada di masyarakat juga muncul. Di saat semua dianjurkan untuk jaga jarak (social distancing), justru solusinya muncul di hal kekerabatan sosial, dengan maraknya urunan, bantu-membantu dengan semangat gotong-royong. Bergesernya skala prioritas dan kesadaran akan potensi yang terlupakan sekonyong-konyong muncul ke permukaan.

Di awal pandemi, sekitar awal Maret, sempat terjadi krisis bahan-bahan sanitasi seperti hand sanitizer. Waktu itu, semua apotek dan supermarket yang saya kunjungi kehabisan stok barang ini. Kondisi ini membuat saya gusar, kok bisa? sesusah apa sih produksi hand sanitizer? Kenapa bisa langka, apalagi di saat-saat paling dibutuhkan seperti saat itu.

Kopernik, organisasi nirlaba tempat saya bekerja, saat itu membentuk team tanggap darurat bencana terkait pandemi, dan agenda darurat utamanya adalah pengadaan APD serta barang-barang sanitasi yang dibutuhkan paramedis di Bali secara cepat, salah satunya adalah pengadaan hand sanitizer. Tanya sana-tanya sini, google sana-sini, diketahui bahwa salah satu kabupaten di Bali, yaitu Karangasem, memiliki sekitar 1000-an petani dan pengrajin arak yang tersebar di wilayah kabupaten ini.
Ketersediaan alkohol, sebagai bahan utama hand sanitizer, ternyata cukup melimpah.  Pesanan awal Kopernik, adalah alkohol 70% (membutuhkan penyulingan hingga 3 kali dari arak tradisional untuk kebutuhan arak minum yang biasanya hanya disuling sekali) sebanyak 500 liter terpenuhi secara cepat, melibatkan sekitar 50-an petani dan pengrajin arak. Pemesanan dilanjutkan. 

Kopernik memesan lebih banyak lagi, sekitar 2.500 liter, dan sama, semuanya mampu dipenuhi secara tepat waktu dan konsisten secara kualitas.
Setelah Kopernik memiliki bahan baku ini, mereka bekerjasama dengan 2 brand industri rumah tangga lokal: Utama Spice dan Embun Natural (yang keduanya berlokasi di dekat kantor Kopernik, dan sudah cukup lama berkecimpung di usaha kosmetika berbahan alami). Dari kedua perusahaan ini, bahan baku ethanol 70% ini disulap menjadi hand sanitizer kualitas standar beraroma sereh.

Untuk jalur distribusi, agar tepat sasaran, Kopernik bekerjasama dengan Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Bali, yang memetakan Rumah Sakit, Klinik, Puskesmas, Posko Covid-19 di seluruh pulau Bali, disamping mendistribusikan langsung ke tempat-tempat di daerah pelosok yang pastinya juga membutuhkan ketersediaan barang-barang ini.

Kegiatan ini berjalan sepanjang masa pandemi, dan mengikutsertakan lebih dari 200-an lebih tenaga kerja, dan menggalang dukungan yang lebih banyak dari berbagai pihak. Salah satu perusahaan minuman beralkohol, Diageo, yang pabriknya ada di Bali, turut menyumbang 10.000 ethanol alkohol 70% sebagai bahan baku hand sanitizer, sehingga saat ada total 13.000 liter bahan baku yang dimanfaatkan.

Inspirasi dari kearifan lokal, dengan jaringan kolaborasi lintas sektor: petani, pengerajin, pengusaha, relawan, dan pemerintah, adalah inti dari kegiatan ini. Ini hanya satu contoh dari kisah inspirasi lokal dan kolaborasi yang saya alami langsung di masa pandemi. 

Dan kami saat ini masih sangat membutuhkan dukungan karena produk ini masih sangat dibutuhkan, terutama untuk daerah-daerah terpencil di pelosok negeri. 

Saya yakin ada segudang ragam kisah-kisah lainnya yang bertebaran di luar sana, kami menawarkan satu yang nyata dan sedang berjalan, dan mengajakmu untuk turut bergabung menjadi bagian dari kolaborasi ini.



Mari Bergabung Menjadi Bagian dari Kolaborasi Ini
Navicula, bekerjasama dengan Apa Kabar Bali? (Sebuah program news dari Kopernik, yang berlokasi di Bali) dan Demajors (label dan distribusi rekaman, yang berlokasi di Jakarta) membuat  album baru Navicula, yang berisikan 8 track kolaborasi dengan para idola kami.

Navicula membawakan ulang lagu-lagu yang rilis di era 90-an, dari band-band inspirasi kami tersebut.

Keuntungan dari penjualan album ini akan sepenuhnya kami dedikasikan ke semua inspirasi kami di atas dan sebagian keuntungan juga didonasikan ke project kolaborasi kami bersama dengan para pengrajin arak di Bali untuk bisa tetap memproduksi bahan baku hand sanitizer yang akan kami salurkan ke seluruh fasilitas pelayanan medis dan masyarakat yang membutuhkan.