Friday, August 9, 2019

4:49 AM

BANJARMASIN, MARI RAYAKAN HIDUP !



23 Juli 2019. Grup musik, Penembak Jitu, merilis sebuah video musik berjudul Philosophia Manusia. Saya melihat potongan video tersebut di Instagram story milik Munir Shadikin, yang belakangan saya tahu bahwa video monokrom tersebut diproduksi Alemo Film dan disutradarai Munir Shadikin.
Kanalkalimantan.com menerbitkan tulisan berjudul Rilis “Philosophia Manusia”, Pembak Jitu Rekam Wajah Banjarmasin Lewat Video Musik Monokrom pada tanggal 26 Juli 2019.  Dalam wawancara tersebut, Munir mengatakan, banyak yang berbeda ketika ia menapaki kakinya kembali ke Banjarmasin usai studi. Mulai dari wajah kota, kebijakan publik politisi, perilaku warga kota di jalanan, corak kesenian para seniman, pegangan dalam mencari penghidupan, dan masih banyak yang lainnya.
Tentu saja Munir lebih mengenal Banjarmasin—dulu hingga sekarang—ketimbang saya. Sebagai pendatang di kota ini, saya ingin mengenal Banjarmasin lebih jauh lagi. Seperti Munir, di kepala saya tentu masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang menggantung dan nyaris tak tertanggungkan.
Kita, kata Penyair Hijaz Yamani dalam puisi “Lanskap Sungai”, memang selalu menyusuri sungai leluhur ini tapi belum sampai ke muara. Dan memang, puluhan tahun kemudian, sama saja. Kita masih dalam penyusuran kehidupan melalui perayaan-perayaan hidup dan segala yang menaunginya. Di dalamnya orang-orang berusaha merayakan hidup. Kedai-kedai kopi dibangun dan tumbuh beriringan. Komunitas-komunitas bergerak bersama dan menyuarakan perkara yang berbeda. Ada yang bertahan dan kian besar. Ada pula yang cuma hadir sebentar lalu tenggelam selamanya. 
E.B. White, dalam esai "Here is New York" yang terkenal, mengatakan bahwa ada tiga New York. Satu milik orang-orang yang bercokol di dalamnya sejak lahir atau kanak-kanak, satu buat para pekerja yang umumnya datang dari kawasan-kawasan satelit, dan satu lagi milik para perantau—tidak menutup kemungkinan Banjarmasin juga sama.
Suatu saat, saya percaya, Banjarmasin akan menjelma jadi kota raksasa seperti kota-kota lain di dunia. Hari-hari ini, saya yang pendatang masih belum—dan mungkin tak bakal—bisa mendefinisikan kota ini seperti E.B. White untuk New York, atau memberi istilah seperti Seno Gumira Adjidarma untuk Jakarta—Homo Jakartensis.
Urang Banua asli memberi Banjarmasin identitas, rombongan pekerja ulang-alik memberinya kesibukan, dan para perantau memberinya gairah. Semuanya, meminjam istilah Sandi Firly, adalah Homo Banjarmensis.  
Setelah melihat potongan video tersebut di Instagram, saya bergegas membuka kanal youtube Bilik Bersenyawa, dan mencari judul “Philosophia Manusia”.  
Oh, mengapa The Thinker?
Hidup ini, tulis Sandi Firly dalam esai “Mobil dan Simbol”, memang penuh dengan  mitos dan simbol-simbol. Mulai sejak lahir, manusia sudah diberi tanda-tanda dan simbol-simbol. Munir menggunakan patung terkenal buatan Auguste Rodin, The Thinker—yang bagi sejumlah orang adalah perwakilan dari Dante yang sedang memikirkan puisi The Gates of Hell, dan bagi sebagian yang lain patung tersebut  mewakili filsasfat, bahkan ada pula yang menganggap sebagai simbol manusia modern—sebagai upaya membuka wawasan tentang khazanah kesenian dan estetika luar negeri.   
Suatu kali, saya dan Angga, sang vokalis Penembak Jitu, berbincang-bincang di kedai Metafora Kopistik, tentang banyak hal termasuk lagu Philosophia Manusia.
Banyak orang yang berfilsafat tentang segala hal tapi masih gentar dengan wajah kematian. Bagi seorang yang mencari, terang Angga, tak cukup hanya dengan mengandalkan kemampuan berfilsafat atau gagasan brilian dari filsuf-filsuf terkenal. Sebab gagasan atau keyakinan yang datang dari orang lain hanya sebatas gagasan atau keyakinan pinjaman semata.
“Jawaban untuk segala pertanyaan,” kata Angga sembari menyapu keringat di dahinya, “hanya ada di dalam diri sendiri.”
Tujuan manusia, katanya lagi, adalah untuk mengenal dirinya sendiri. 
Lirik demi lirik ia jelaskan kepada saya secara lebih hangat dan dalam. Saat itu, kedai tempat kami berbincang sedang semangat-semangatnya karena suasana di dalamnya dihidupkan oleh musik yang berisik dan obrolan yang hangat yang juga kian mendalam.
Video musik yang digarap Munir dan kawan-kawannya lumayan membikin pikiran saya terlempar kembali ke kampung halaman. Tapi, lirik-lirik yang dinyanyikan Angga dan gebukan perkusi Yulian membuat saya seolah-olah paham soal penderitaan laki-laki dan memandang dunia dengan gagah berani seperti Chairil Anwar.
“Dengan perlahan kau berkenan kembali.” Lirik tersebut seolah dibisikkan Angga di telinga saya, dan bisikkan itu menggugah.
Seperti yang diterangkan Munir kepada Kanalkalimantan.com bahwa karya dalam bentuk video musik ini merupakan persembahan untuk semua yang berusaha membuat kota Banjarmasin menjadi lebih baik, semua yang muak dan ingin keluar, dan semua yang telah menemukan jalannya di kota Banjarmasin. Ataupun semua yang masih mencarinya seperti saya. Bagi Munir yang bercokol sejak lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Banjarmasin saja mengaku masih mencarinya, bagaimana dengan saya yang baru lima tahun hidup di sini?
Saya pernah menceritakan satu keluarga yang saya temui di suatu tempat di sudut kota Banjamasin kepada Munir. Kepala keluarga itu mengisahkan pengalaman hidupnya yang pahit dan indah kepada saya dengan cara yang indah pula. Tak ada kesedihan di wajahnya ketika ia mengisahkan pengalaman hidupnya. Sepanjang bercerita ia senantiasa tersenyum. Saya kira, si kepala keluarga itu, tahu bagaimana cara merayakan hidup.
Apa pun nama dan apa saja yang sudah dicapai kota ini sepanjang ia ada, siapa pun yang sudah menemukan dan telah berhasil mendefinisikannya, baik mereka yang terperosok semakin dalam maupun mereka yang punya tempat yang lebih tinggi, apa saja, selama ia dan mereka yang pernah hidup dan berusaha menghidupkan kota ini patut dicatat, “keduanya  dapat tempat.”
Beberapa saat setelah obrolan saya dan Angga, juga Yulian selesai, saya pulang.
Saya menuang sekaleng Bintang ke dalam dua gelas berukuran kecil. Saya membuka pintu kamar di lantai atas dan menyaksikan langit yang terang, lebih terang dari lima tahun lalu ketika saya belum kenal Angga dan Penembak Jitu.
Lima tahun lalu saya belum tahu dan tak kenal Munir. Lima tahun lalu belum ada perpustakaan Warung Baca. Saya memutar lagu Philosophia Manusia, puluhan kali sejak pertama kali  saya membawa rilisan fisiknya ke perpustakaan Warung Baca, dan menelan isi gelas yang pertama untuk Banjarmasin dan segala yang ada di dalamnya.
Gelas yang kedua, harapan untuk Penembak Jitu agar bisa bertahan lebih lama—seratus tahun mungkin bukan harapan yang berlebihan. 

Friday, August 2, 2019

8:52 AM

MENGENAL MAFIA PEMANTIK QOLBU LEWAT "LAST MAN"



Pada penghujung tahun 2016 lebih ketika banyak kasus besar terjadi layaknya, kasus Mirna yang dengan lambat sekali terselesaikan kemudian disusul oleh kabar ihwal penistaan agama lalu digelarlah serangkaian acara 212 dan semacamnya, ketika itu pula Mafia Pemantik Qolbu disingkat MPQ lahir di Jakarta selatan yang kemudian langsung mempersembahkan kepada belantika musik Indonesia dengan merilis dua buah single sekaligus, yakni “Rupa-rupa” & “Bubatual” yang dirilis pada 18 Februari 2019 kemarin via kanal You Tube.

MPQ  yang dimotori oleh Putra Alit Djarot (vokal, gitar, midi), Daniel Hasudungan (vokal latar, gitar, keyboard, piano), Rakaputra (vokal latar, bass), Abram Dionisius Antory (vokal latar, lead gitar) Rakha Agung Suryandaru (drum, perkusi). Beramunisikan alternative rock, mereka mengaku terinspirasi macamDewa 19, The Beatles, Radiohead, Pink Floyd, Flower Kings dan masih banyak lagi.
MPQ  juga berseloroh ihwal target terdekat mereka  “Banyak tawaran manggung aja mas apalagi event besar hehe, sisanya ya semoga rilisan baik digital maupun fisik (kalo ada) diterima sama orang-orang” Setelah “Rupa-rupa” & “Bubatual” lahir sebagai anak rohani MPQ berselang satu bulan lahirlah “Last Man”(rekomendasi untuk didengarkan), kemudian sepekan lalu lahirlah “Renung” 
single sudah bisa di nikmati melalui platfrom musik Spotify, iTunes, Deezer dan Apple Music yang pastinya masuk dengan sopan sekali ke telinga pendengarnya.

Bisa dikatakan “Last Man” adalah hal yang baru dan sangat berbeda dari materi MPQ sebelumnya, liriknya pun ditulis dalam bahasa Inggris yang bercerita tentang seseorang yang mengabaikan realita “Orang ini sih sadar kalo lebih banyak yang melek sama realita dibandingkan sama yang suka ngayal, Tapi segitu enggak pedulinya dia sama realita dan lebih milih untuk percaya sama khayalannya”

Terakhir ada pesan dari Mafia Pemantik Qolbu untuk pembaca Bilikbersenyawa, “Ayo dengerin MPQ di semua layanan streaming musik yang tersedia, tonton youtube MPQ dan tunggu rilisan-rilisan berikutnya dari MPQ, selain itu juga jangan males eskplorasi musik-musik dari band lokal seluruh Indonesia, banyak yang bagus kok kalo mau sabar ngulik” 




Monday, July 29, 2019

11:49 PM

ARI BASKARA DAN SHARING PHOTO STORY




Terkesan dadakan namun tetap hangat dalam bertukar pikiran, Ari Baskara dan kawan – kawan mengadakan kegiatan sharing serta berbagi pengalaman tentang photo story. Dibuka oleh Ryan & Ricky, yang mana 2 fotografer panggung ini, bercerita sedikit tentang proses pembuatan photo story di beberapa event yang melibatkan mereka. Lalu sesi sharing dilanjutkan oleh Ari sendiri.
Bercerita seputar aktivitas di salah satu pasar di darah kab. Banjar, Ari bercerita photo story adalah  tentang suatu kejadian dimana ada awalan penjelasan, cerita dan penutup. Ia menjelaskan proses dari persiapan awal aktivitas pasar yang baru buka, portrait para pelaku pasar serta moment aktivitas lain seperti system barter yang dilakukan pelaku pasar & suasana pasar tersebut.


Berjalan dengan intim , Ari juga menampilkan beberapa photo story nya di beberapa kawasan lain. Salah satu yang menarik adalah dikawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di jalan Lingkar Basirih. Ari berharap kegiatan sharing seputar Photo Story ini bisa berlanjut, dengan sharing fotografer-fotografer lokal lainnya. Bahkan kalau bisa sampai mendatangkan pemateri dari luar kota, itu akan lebih menambahkan wawasan kita lebih luas sebagai fotografer, tambah Ari.







Instagram :

Thursday, July 25, 2019

1:14 AM

SETELAH SATU DEKADE LEBIH, MARJINAL BARU RILIS VIDEO KLIP "CINTA PEMBODOHAN"



Nama Marjinal sudah pasti tidak asing lagi bagi pendengar musik beraliran cadas dan lagu-lagunya yang tidak jauh adalah tema ihwal isu-isu berkemanusiaan yang sebenar-benarnya, mulai dari kasus Marsinah, Kendeng, hingga Kulon Progo. Dengan dentuman drum yang memekakan telinga namun sekaligus bisa memicu adrenaline dalam diri agar semangat beraktivitas, laiknya kuliah, kerja, dan lain sebagainya.

Setelah sepuluh tahun lebih mengisi telinga remaja yang kebanyakan pendengarnya dengan setelan yang melekat di jaket dengan emblem Bad Religion, Anti-Flag, Doom, Buzzcocks,Begundal Lowokwaru dan masih banyak lagi, gaya rambut yang sudah bisa kita bayangkan sendiri, sepatu Boots dan yang pasti asas-asas ihwal perlawanan atas ketidakadilan dalam hal-hal tertentu yang membuat panjang umur perjuangan itu sendiri. Eh tapi ga semua Punk mesti ngedrugs ? sebagian banyak yang masih kuat dengan falsafah “Straight Edge”nya, so jangan pandang sebelah mata dingsanak berataan.

Video Klip berdurasi 3 menit 49 detik ini rilis sepekan yang lalu di You Tube dalam bentuk animasi video yang di buat langsung oleh Bob sang Bassist, Modelnya animasinya adalah Blaut & Ainun dalam videonya nampak sekali adegan yang selaras dengan lirik, minum racun serangga, gantung diri, lompat melompat dari gedung bertingkat, lirik-liriknya menohok tajam bagi pendengar yang sedang sendu-sedannn wkwk, Hey kau kau kawan, terlihat cemen (cinta bukan dibalik kolor)~

Lagu ini terinspirasi dari banyaknya kejadian yang ada disekitar kehidupan sehari-hari, dimana banyak generasi muda bahkan tak mengenal usia yang menjadi korban karena cinta. Hal ini telah kita amati ternyata penyebab permasalahnnya ada di sebuah kata “cinta” dimana ketidak mampuan manusia dalam menyikapi dan menterjemahkan istilah kata cinta itu sendiri. Dimana seolah-olah cinta adalah anugrah tertinggi yang tak memerlukan lagi jawaban dan kepastian yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, ditambah lagi kecenderungan konsumtif tingkat tinggi kebanyakan masyarakat indonesia, yang ogah cari tahu atau mau dekat dengan masalah hingga menambah deretan kekocakan masyarakat di bangsa ini. Ada berbagai macam bunuh diri yang terjadi karena depresi perkara cinta. Dari menggantung diri, lompat dari gedung, minum racun serangga, saling bunuh membunuh dan lain sebagainya. (dikutip dari You Tube, Marjin TV )


Panjang umur perjuangann!


Jadii, apa lagu Marjinal favorit kalian ?!



Saturday, July 13, 2019

7:50 PM

JALAN TERUS TANPA HARUS IKUT ARUS



Berawal dari kecintaan sang pendiri akan sang drummer legenda, Travis Barker, akhirnya tahun 2001 didirikanlah Racerkids . Eno NTRL, pendiri Racerkids, dirasa cukup memuaskan dahaga para penggemar Travis & Famous (brand milik Travis Barker). Selain Eno NTRL sendiri sebagai drummer yang ikonik yang punya banyak fanbase, Racerkids juga dirasa mewakili fans Travis Barker yang susah mendapatkan produk Famous.

Di antara tahun 2012 – 2017, Racerkids sempat mencoba mengikut trend pasar industri clothing, dari segi desain dan artwork. Akhirnya atas banyaknya masukan dari customer & reseller, Racerkids kembali on track.


Bayu Esa (Manager Racerkids sekarang), menanggapi bahwa Racerkids akan tetap konsisten dengan personal branding sudah dibangun dari awal, tanpa harus ikut arus. Bayu yakin dengan konsistensi, Racerkids puya tempat tersendiri di hati pelanggan setianya. Seperti hal nya Bayu, yang duduk dari bangku SMP sudah jadi customer Racerkids, sekarang menjadi Manager serta mengatur langsung manajemen produksinya.

Racerkids sekarang bertempat di Jalan Jend. A. Yani km. 5,5, No. 5, Banjarmasin.

Friday, July 12, 2019

11:24 PM

AFTER SEPTEMBER RILIS SINGLE "A.S.A" SEBAGAI JEMBATAN MENUJU EP ALBUM


After September adalah kelompok musik pop yang terbentuk pada 21 September 2017 yang berasal dari Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Yang sekarang dimotori oleh Anisa (Vokal), Ade Nugraha (Bass), Hanan Ravaie (Gitar), Rizkhi Pebriandika (Gitar). Dipengaruhi oleh berbagai macam sentuhan dari berbagai musik, After September mencoba membangkitkan kembali berbagai kenangan-kenangan manis dari masa lalu yang kemudian dibawa dengan gaya cerita dan sederhana yang dimaksudkan untuk membangkitkan emosi dan perasaan untuk bernostalgia.

Pada tanggal 7 Juni 2018, mereka merilis single pertama mereka yang berjudul "Cakrawala" yang menjadi single andalan. Selang 1 tahun 1 bulan kemudian, tepat di 7 Juli 2019 After September merilis single kedua berjudul A.S.A yang menjadi jembatan mereka menuju EP yang akan segera rilis dan record secara berdikari.

Lagu A.S.A bercerita tentang seorang insan yang mengerahkan segala upaya untuk meyakinkan orang yang ia kasihi kembali ke pelukannya lagi untuk selamanya, lagu ini dikemas secara manis dan penuh lirih seperti terdapat pada kutipan lirik lagu A.S.A yaitu "Habiskan segala keraguan, untuk tetap bersama. Cerita yang tak terungkap oleh kata, rasakan hentinya waktu" dan "Dalam genggam ku menjaga, terlontar kata malam ini. Sudikah kau kembali kali ini saja?"

Lagu A.S.A sudah bisa dinikmati di platform streaming musik dan terdapat video klip yang dapat memanjakan mata di Youtube


2:43 AM

STARS AND RABBIT MENGISI ACARA FESTIVAL MUSIK DI PARIS




Stars And Rabbit duo Indonesia ini dibentuk pada 2011 di Yogyakarta, Elda Suryani pada vocal sedang Adi Widodo pada gitar, EP perdana mereka, Live at Deus, dirilis pada 2013. Kemudian pada tahun 2015, Album Constellation adalah bentuk album penuh mereka, dengan beberapa lagu-lagu pamungkas di dalamnya. 

Setelah sebelumnya sukses menjalankan tur konser Baby Eyes di Inggris dan Wales tahun 2016, dan tur Asia konser Baby Eyes 2017 di Tokyo, Hanoi, Palembang, Kuala Lumpur dan berakhir di Jakarta serta berlaga di Laneway Festival di Singapura dan Urbanscapes di Malaysia. Tahun lalu 2018 mereka juga mengisi event Formula 1 Grand Prix di Singapura dan Di festival musik Wonderfruit di Pattaya, Thailand.

Dan untuk pertama kalinya Stars And Rabbit akan perform di festival musik di Musiques d’Ici Et d’Ailleurs (MIA), di kota Chalons En Champagne yang berjarak 2 jam dari pusat kota Paris, Francis. Pada penghujung bulan Juli tepatnya tanggal 26 dan 27 Juli 2019. MIA sendiri akan digelar dalam kurun waktu 5-6 minggu, dari tanggal 29 Juni – 28 Juli 2019. Dengan di isi oleh 50-60 Showcase secara bergantian dalam kurun waktu 6-7 hari dalam seminggu.
 

Pada tiga hari terakhir 26 hingga 28 Juli dimeriahkan dengan 14 konser dan set DJ, konser ini bertujuan untuk selebrasi karya kontemporer perempuan Internasional atau women empowerement konser tersebut akan diikuti oleh grup musik yang dipimpin oleh musisi perempuan. Berbagai negara turut serta andil dalam gelaran program kesetaraan gender ini mulai dari Inggris, Argentina, Madagaskar, Afrika Selatan, Tanjung Verde, Maroko, Prancis, dan dari Indonesia pastinya ada Duo punggawa dari Yogyakarta: Stars And Rabbit yang sejalan dengan visinya karena sang vocalis adalah musisi perempuan yang harus terlibat dalam proyek musik tahunan ini

Selain itu, festival ini juga mendukung proyek pendidikan  setiap minggu yang melibatkan 10 hingga 15 anak muda di lingkungan yang kurang beruntung secara sosial untuk diajak berpartisipasi dalam acara budaya penting di kota dan wilayahnya dengan bekerja dalam tim produksi festival dengan di bimbing oleh tim profesional, dibagi dengan lokakarya sebagai tim promosi, produksi teknis. Setelah acara selesai mereka mendapatkan kompensasi dan liburan. 

Monday, July 8, 2019

9:56 PM

SEBUAH PERMINTAAN MAAF DARI SABIELLA MARIS


Pernahkah kamu sebelum tidur memikirkan banyak hal ? Termasuk memikirkan  sesorang yang telah banyak berjasa di perjalanan hidupmu tapi orang itu kita anggap remeh lalu kita sakiti? . Sabiella Maris mewakili sudut pandang sebagai pendosa itu lewat lagu “Drop Someone a Line".

Lagu berdurasi  4 menit tersebut sebenarnya sebuah pengalaman pribadi sang solois asal Malang yang akrab di panggil Bela ini. “ Sebenarnya lagu ini adalah peringatan buat aku,agar tidak menganggap sepele semua hal,khususnya orang yang banyak membantu kita,apapun itu” ujar Bela .



Dalam proses kreatifnya, lagu ini di tulis dalam waktu satu hari. Lalu dibantu Bambang Iswanto ( The Morning After) dalam produksi rekaman,lagu ini hampir memakan waktu 2 bulan,karena di lagu ini adalah pengalaman dan tantangan baru untuk Bela. Sebab Bela sendiri hampir memainkan semua instrumen untuk kebutuhan musik.

Lagu ini dirils akhir bulan Juni 2019 dalam bentuk digital single di platform dunia maya  yang bisa kamu dengarkan di YouTube ,Spotify dan lainnya.

Jadi apakah “Drop Someone a Line” bisa menemani rasa menyesalmu sebelum terlelap dan kamu bisa bangun dengan rasa tidak berdosa lagi?


Lebih dekat dengan Sabiella Maris
Instagram: @sabiellamaris
3:05 AM

NAUGHTY HAND: BERTAHAN MENGHADAPI PERADABAN


Setelah mantab dengan formasi barunya, akhirnya Naughty Hand mengkoarkan bahwa mereka siap untuk album pertamanya. Album yang direncanakan keluar tahun ini, dinamakan “Civilization”. Bercerita tentang banyak hal, salah satunya tentang kerusakan alam yang sedang Indonesia hadapi & perjuangan bertahan hidup ditengah permasalahan duniawi. 
Chank (vocal), Decky (Guitar), Rydho (Guitar), Reza (Bass) & Kiki (Drum), akhirnya memklopkan diri untuk mengejar penyelesaian album mereka. Dengan selalu menambahkan banyak breakdown pada setiap lagunya, mereka konsistem di jalur Metalcore. Di beberapa lagu juga ada nuansa deatchcore yang kental untuk menambah variasi dalam musik mereka. Ditanya tentang progress album, Chank menyampaikan bahwa sejauh ini beberapa materi sudah komplit, tinggal menunggu proses take lagunya , & kemungkinan ada 10 track yang bakal di mereka rilis.
Lagu andalan mereka, Will Become Stronger, selain menjadi lagu andalan, lagu ini juga sudah mempunyai video clip.
Yang penasaran, bisa check lagunya dibawah.

About

authorBilik Bersenyawa adalah Creative Hub dari Kalimantan Selatan
Selengkapnya →



Event 1

Event 2