Friday, September 13, 2019

September 13, 2019

TOTALLY UNPLUGGED, SILATURAHMI BERKEDDOK AKUSTIKAN


Ngegigs kok hari Rabu? Nggak tau ya kalau menurut riset, Rabu itu dianggap sebagai hari terberat pas weekday? Lagian siapa juga yang mau datang ke acara pas hari Rabu? Mereka adalah Odon, David, Ayub, Gorey, Shandy, Mita, dan kawan-kawan lain yang tak bisa saya tulis satu-satu karena saking banyaknya yang hadir. Kira-kira, kalau dihitung diluar dari personel band yang main,  mc, dan pihak Sonicfuzz, ya kira-kira ada sebelas - dua belas orang lah. Lumayan.

Begitulah Sonicfuzz ya, bikin acara bodo amat kaya biasa. Kali ini tempatnya di Liwis Kitchen dengan tajuk Totally Unplugged yang nggak nggak unplugged banget. Sama lah kaya MTV unplugged yang masih bergantung sama kabel, ampli, dan PLN. Di edisi pertama, bandnya di bawah naungan Sonic juga, Weirdos & Pesawat Tempur. "Trial and error dulu. Untuk awal, bandnya langsung kita todong dan bisa, serta pastinya bersedia tidak dibayar sebagai bentuk pengabdian terhadap labelnya," kata Ozy dengan nada tinggi seperti biasanya.

Acara dibuka oleh Pesawat Tempur yang seperti biasa menciptakan karaoke massal dengan tembang seperti "Damai"dan "Belum Saatnya Mendarat". Total ada 5 lagu yang mereka bawakan dalam format akustik. Setelahnya ada bintang tamu misteri dari Palangkaraya, Herman dari Catatan Kaki yang melanjutkan sesi unplugged. Herman membuka perkenalannya dengan "Burung Gereja" dari Nugie, dan beberapa tembang dari Catatan Kaki. Di ujung, Weirdos menutup acara membawakan 4 lagu mereka dan 1 lagu cover. Di kesempatan ini, mereka juga membawakan lagu barunya "The World of Bigotry".

Daripada dibilang gigs, acara ini lebih kepada silaturahmi sambil begitaran. Macam kaya lagi ngumpul, kebetulan ada gitar, ngejreng deh. Bedanya, disini band-bandnya mayoritas bawain lagu sendiri, dan itulah tujuan Sonicfuzz ngadain acara ini. Memperkenalkan lagu sendiri dengan cara minimalis. Totally Unplugged juga, kabarnya, akan di adakan rutin dengan semangat kolektif dan mengajak band-band lokal lainnya untuk berpartisipasi. Wih mantep nih.  Ditunggu deh acara selanjutnya. Panjang umur kolektifun!

Wednesday, September 4, 2019

September 04, 2019

ANTUSIASME VECTOR X VEXEL ARTIST INDONESIA SAMBUT FILM GUNDALA



Film Gundala yang distrudarai oleh Joko Anwar telah resmi tayang perdana pada 29 Agustus 2019 di Bioskop Seluruh Indonesia. Film yang menjadi pembuka Jagat Sinema BumiLangit ini mendapat respon positif, antusiasme masyarakat terlihat sangat besar tidak terkecuali teman-teman dari Vector x Vexel Artist Indonesia.

Dimotori oleh Rizqi Alam (Alam Creative) teman-teman Vector Artist melakukan Olbar (olah bareng) poster dari film Gundala. Ada sekitar 520 karya yang ikut serta dalam #OlbarGundala ini sampai 24 Agustus. 520 karya tersebut serentak diposting di sosial media Instagram tepat sehari sebelum penayangan perdana film Gundala, selain itu karya-karya itu juga dirangkum  dalam 1 video berdursi 25 menit di channel youtubenya Rizqi Alam.

"Saya kaget karena banyak yang ikutan diluar ekspetasi saya pikir hanya 100 artist yang berpatisipasi ternyata lebih dari  500 artist. Bersyukur bisa olah  bareng fan art Gundala bersama mereka. Semoga bisa olah bareng lagi dengan jumlah artist yang lebih banyak untuk ikut sertanya pastinya." ujarnya.

Meskipun diawal tujuan dari #OIlbarGundala ini adalah untuk senang-senang sembari melatih skill. Tetapi untuk mengapresiasi kawan-kawan yang sudah ikut serta, Alam akan memberikan reward untuk 3 karya tergokil menurut dirinya.

"Kalaupun ada reward bukan karena yang menang itu lebih bagus dibanding yang lain, bagusnya sebuah karya seni itu relatif. Harus ditekankan lagi tujuan diawal dari #OlbarGundala ini untuk senang-senang." ungkap Rizqi Alam.

Beberapa karya yang ikut serta dalam #OlbarGundala ini


@gundies_





Seluruh 520 karya yang ikut serta bisa dinikmati di channel youtubenya Rizqi Alam

Monday, September 2, 2019

September 02, 2019

MUSISI LOKAL WAJIB PUNYA VISUAL



Dengerin musik emang makin khidmat kalau kuping dan semua indera kita fokus sama audionya. Tapi di era visual sekarang, video menjadi sangat penting untuk musik agar lebih bisa mempresentasikan lirik lagunya. Video musik juga bisa menjangkau segmen yang lebih luas. Dari era radio ke televisi, musisi/band yang ingin menjangkau pemirsa TV berlomba-lomba bikin musik videonya sendiri. Pastinya dengan budget yang gila, bahkan lebih besar daripada biaya produksi musiknya sendiri.
Sekarang di saat semua orang megang kamera, siapa saja bisa membuat musik video. Promonya tentu bukan di TV, melainkan melalui Youtube. Makanya sekarang semua musisi/band kayanya udah punya musik video-nya sendiri. Ya minimal video lirik lah.
Tren positif ini juga nyampai di Kalsel. Ada banyak musisi/band di Banjarmasin dan sekitarnya yang kini mulai berlomba-lomba bikin video keren. Program Propaganda dari Bilik Bersenyawa juga cukup sukses jadi jembatan pertemuan antara musisi dan video maker. Dari program ini, ada belasan musik video tercipta sejak tahun 2018 lalu. Di luar itu, masih banyak musisi/band lokal yang bikin musik videonya secara mandiri dan kolektif. Beberapa di antaranya yang masuk pantauan, begitu menarik perhatian kami.

River City Famz - Next Generation
5 menit nonton musik video Next Generation jadi nggak mbosenin, karena River City Famz menyajikan berbagai macam elemen. Ini lagu multi bahasa karena terdapat bahasa Indonesia, Inggris, dan Banjar. Kerennya lagi, ada sedikit unsur dangdut dalam lagunya. Melihat optimisme dan semangat anak-anak muda ini, ada rasa lega karena regenerasi berjalan dengan sebaik dan seharusnya.



Proletary - Diam adalah Penghianatan
Di saat scene hardcore mulai padam, Proletary hadir dengan api membara lewat "Karena Diam Adalah Penghianatan". Lirik-lirik perlawanan dalam lagu ini makin berasa kuat dengan footage-footage aktivitas tambang di Kalimantan. Tonton dulu video musiknya sebelum di take down bos bos batu bara! Hehe.



The Bar-Bar - Hoax
Tidak cukup hanya dengan gerakan membakar ijazah, kali ini the Bar Bar mengajak pendengarnya untuk memerangi hoax lewat lagunya "Hoax". Sejak lagu Ijazah,  the Bar Bar selalu menghadirkan visual menarik dengan sederhana. Kali ini, berbagai macam footage berbagai kejadian hoax di Indonesia, dikumpulkan jadi satu dalam musik video berdurasi 3 menit.



Wasaka - Break the Line
Baru 2 bulan setelah Unpremic, 6 rapper produktif yang tergabung dalam Wasaka kembali hadir dengan “Break the Line”. Dibandingkan dengan sebelumnya, ada peningkatan kualitas video pada musik video kali ini. Sepertinya kesuksesan “Unpremic” bikin mereka lebih niat menggarap musik video “Break the Line”.



Rockapudink – A.T.T.C
Salah satu resep awet muda adalah bersenang-senang. Dan bapak-bapak dari Rockapudink ini tau betul gimana caranya. Lewat musik video “A.T.T.C”, Rockapudink bersenang-senang, menggila, dan menjadi kekanak-kanakan. Berbagai  aksi panggung yang terekam juga mendominasi musik video ini, bikin musik videonya jadi nggak ngebosenin.

Sunday, September 1, 2019

September 01, 2019

RIVERCITY FAMZ : SUNDUL HIP-HOP BANJARMASIN KE DALAM TIGA BAHASA



     Dua hari menjelang hari Dirgahayu kemerdekaan Ibu Bumi Pertiwi kita Indonesia yang ke-74, buku roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer telah mencapai puncak perfilman Indonesia, semarak kemerdekaan Indonesia hampir tak pernah luput menghiasi pelataran rumah dengan bendera merah putih diseluruh pelosok negeri ini, spanduk-spanduk wajah para petinggi daerah bermunculan dengan quote ihwal merdeka kendati kata “merdeka” sendiri masih memiliki arti lain bagi setiap orang yang merasa masih banyak hal yang belum bisa merdeka di Negeri ini, tapi jangan sampai kamu bilang Indonesia ini belum merdeka jika makan sampai berak pun masih dari dan di tanah ini haha

    Bertepatan dengan hari jadi kemerdekaan Indonesia, Grup Hip-hop banua: Rivercity Famz telah merdeka dengan cara mereka sendiri, telah merdeka juga kebebasan berpendapat sekaligus berkarya yang dituangkan dalam sebuah karya seni musik, terbukti dengan rilisnya music video mereka yang berjudul “Next Generation” ini sudah menunjukkan  kebebasan mereka dalam berkesenian, 17 Agustus 2019 menjadi tanggal launching music video perdana mereka yang di rayakan bersamaan dengan acara “Borneo Clan Independance Rappublic “ di Gudang Kopi Hages.
Menariknya,sejak terbentuk tahun 2008 dengan ditandainya rilisnya album kompilasi rap Banjarmasin dan music video dari anthemnya, Rivercity Famz dalam Next Generationnya membawakan tiga bahasa sekaligus yakni bahasa Indonesia, Inggris dan tentunya bahasa daerah kebanggaan kita bahasa Banjar. Dan hingga tulisan ini dibuat music video mereka di kanal You Tube telah melirik 3,9 ribu pasang mata, semoga bisa mencapai jutaan lagi. Mari kita Aminkan!

    Di awal video Kidd lost bak ujung tombak yang tajam dengan lirik yang menohok pendengarnya “Coba dengar mari sini, nada keras Rivercity”  bahwasanya anak Kalimantan pun juga bisa unjuk gigi seperti kaum muda lainnya, lalu disambung Ohmygab yang dirasa pas untuk membawakan lirik berbahasa Inggris ini, tak mau melupakan tanah kelahiran mereka,  Raintwenty yang membawa kearifkan lokal Kalimantan ke dalam lirik sehingga membuat music rap ini menjadikan Mind-blowing bagi pendengarnya.

“BERI AKU RIVERCITY FAMZ, MAKA AKAN AKU GUNCANGKAN DUNIA”

Interview oleh : Muhammad Fajar

Rivercity Famz, bisa ceritakan awal mula grup hip-hop ini dibuat ?
      
     Bukan grup hip-hop, tapi bentuk nya famz haha, dan sejarah awal mula famz ini dibuat itu secara detail nya menurutku bukan dari kami (orang-orang di video clip kemaren) yang berhak menjawab karena bukan kami yang membuatnya, kami hanya generasi penerus (entah sudah generasi ke berapa). Tapi setahuku River City Famz itu sub nya Borneo Clan. Borneo Clan berarti mencakup seluruh Kalimantan, River City Famz dibuat khusus untuk anggota yang berdomisili di Kalimantan Selatan tepatnya sekitaran Banjarmasin. Kalo dari Kalimantan Timur tepatnya balikpapan itu ada Behind Da Board / BDB (shout out!).

Awal kenal Hip-hop kapan ?

     Andi : Kalau aku pribadi cerita awal nya itu sekitar tahun 2012-2013-an. Heri a.k.a Al-Faqir (Swanang Crew) dia bawa Hip-Hop ke kampung caelah bahasa nya haha dia bagi lagu-lagu Hip-hop/rap ke teman setongkrongan saya di kampung Ega namanya, terus Ega bagi ke saya, sejak saat itu lah mulai kenal Hip-hop  atau rap lah khusus nya.

   Ronald : Dulu gak tau lagu-lagu rap karena di keluarga mamah sendiri penyanyi gereja papah keyboardnya, tiap hari dengar lagu-lagu rohani di rumah, nah jaman SMA kelas 1 ada teman namanya Chrismon dengerin lagu Bondan Prakoso & Fade 2 Black judulnya Bunga, nah aku langsung tertarik kok dia nyanyin kaya pantun gitu,langsung di jelaskan temen ku klo itu namanya nge-rap nah habis dari kejadian itu mulai kewarnet cari-cari dan dengar lagu-lagu rap

Boleh sebutkan siapa saja anggota Rivercity Famz yang termasuk dalam video klip kalian ini ?    
Ada Ronald a.k.a Kiddlost, Farhan a.k.a Fair Hand, Gaby a.k.a Oh My Gab, Imam a.k.a Kiddnasty, Aziz a.k.a Raintwenty8 a.k.a MC Kidding, Andi a.k.a ILL ACHMED, Mukhlis a.k.a Muclles, Teguh a.k.a Mattcoast.


Dari aspek lirik, kalian menggunakan tiga bahasa berbeda, kenapa ?
    
     Tidak ada alasan apa-apa sih sebelumnya.. karena masing-masing kami memang punya warna yang berbeda-beda, jadi bawa karakter masing-masing aja. Ronal, Farhan, Imam, Andi yang sok lirikal dan Muclles yang sok asik jadi bawa bahasa Indonesia, Aziz dengan kearifan lokal nya bawa bahasa Banjar, dan Gaby yang sok inggris hahaha. Natural aja sih.. tidak ada pengotakan disini harus pakai bahasa apa, kalo ada yang bisa bahasa Belanda mungkin ada bahasa Belanda nya juga itu

" Seribu hujatan yang menghujam kami takkan pernah padam " bisa ceritakan pengalaman kalian pernah mendapatkan hujatan seperti apa ? Dan bagaimana tanggapan kalian ?

    Belum pernah dihujat sebenarnya hahaha, cuma kalo seandainya ada yang menghujat ya kami takkan padam gitu aja sih. Dan tanggapan kami kalo ada yang seperti itu kami punya prinsip "biarlah orang jahat kepada kita, kita jangan pernah jahat ke orang lain". Kami lebih menginginkan fokus bekarya untuk jadi lebih baik, karena pendapat pendapat orang tidak pengaruh ke pendapatan

Oke, tapi setuju tidak kalau di kritik tapi untuk membangun ?

    Sangat setuju dong, kami  terima segala bentuk kritikan dari yang membangun hingga yang paling merobohkan hahaha

Kalau menurut kalian pendengar Rivercity Famz,  itu siapa aja ?

    Untuk sekarang seperti nya sekitaran Hip-hop heads dan masyarakat Banjarmasin lah, Kalau soal pendengar mengingat isi rapper di Rivercity itu sendiri berbeda beda karakter dan dari kalangan yang berbeda beda dan sajian musik yang berbeda juga jadi kemungkinan besar nya pendengar nya pun pasti dari kalangan yang berbeda beda.
Kalo target pendengar sih kami cuman nargetin seputaran Kalimantan tapi beruntung nya kemarin ada juga beberapa orang diluar Kalimantan juga yang dengerin dan comment via Youtube yang entah berasal darimana nya kami belum menganalisa lebih dalam.

Kalau distribusi musik kalian gimana ?

    Untuk video clip kemaren kami bikin screening launching video nya di acara Borneo Clan (Independance Rappublic 17 Agustus 2019), Upload di youtube terus promosi di sosmed. Kalau untuk musik kedepan nya kami bercita-cita membuat album dan rilis fisik (Amiin) haha

Apa yang ingin kalian sampaikan lewat lagu ini ?

    Garis merah nya itu sesuai judul nya "Next Generation", kami ingin menjadi penyambung generasi nya River City Famz.

Siapa rapper yang menginspirasi kalian dalam mengolah musik ? 

Ronal : Keilanboi, J. Cole, Kay Oscar, Jake Hope

Farhan : Busta Rhyme

Gaby: Travis Scottt, A$ap Rocky, Machine Gun Kelly, Eminem, Logic, A.Nayaka, Gbrand, The Game

Imam: Laze, Joe Million, Joey Badass, Denzel Curry

Aziz : Eizy, Laze, Rich Brian, Kota The Friend, 21Savage, Russ

Andi : Heavy Metal Kings, A$ap Mob, Beast Coast, City Morgue

Muclles : Laze, Joe Million, Nartook, Wiz Khalifa, Rich Brian, Higher Brother
 
Teguh : Scarlxrd, Zillakami, 7xvngod

Terakhir, adakah pesan untuk pembaca Bilik Bersenyawa ?

Gaby : Tetap dukung terus musisi lokal mwah

Andi : Terimakasih.. support terus pergerakan lokal, hobi kalian keren!

Mucless : Keep support your local scene bukan support support an lewat insta story dan jgn lupa 
senyum ramah

.

Friday, August 9, 2019

August 09, 2019

BANJARMASIN, MARI RAYAKAN HIDUP !



23 Juli 2019. Grup musik, Penembak Jitu, merilis sebuah video musik berjudul Philosophia Manusia. Saya melihat potongan video tersebut di Instagram story milik Munir Shadikin, yang belakangan saya tahu bahwa video monokrom tersebut diproduksi Alemo Film dan disutradarai Munir Shadikin.
Kanalkalimantan.com menerbitkan tulisan berjudul Rilis “Philosophia Manusia”, Pembak Jitu Rekam Wajah Banjarmasin Lewat Video Musik Monokrom pada tanggal 26 Juli 2019.  Dalam wawancara tersebut, Munir mengatakan, banyak yang berbeda ketika ia menapaki kakinya kembali ke Banjarmasin usai studi. Mulai dari wajah kota, kebijakan publik politisi, perilaku warga kota di jalanan, corak kesenian para seniman, pegangan dalam mencari penghidupan, dan masih banyak yang lainnya.
Tentu saja Munir lebih mengenal Banjarmasin—dulu hingga sekarang—ketimbang saya. Sebagai pendatang di kota ini, saya ingin mengenal Banjarmasin lebih jauh lagi. Seperti Munir, di kepala saya tentu masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang menggantung dan nyaris tak tertanggungkan.
Kita, kata Penyair Hijaz Yamani dalam puisi “Lanskap Sungai”, memang selalu menyusuri sungai leluhur ini tapi belum sampai ke muara. Dan memang, puluhan tahun kemudian, sama saja. Kita masih dalam penyusuran kehidupan melalui perayaan-perayaan hidup dan segala yang menaunginya. Di dalamnya orang-orang berusaha merayakan hidup. Kedai-kedai kopi dibangun dan tumbuh beriringan. Komunitas-komunitas bergerak bersama dan menyuarakan perkara yang berbeda. Ada yang bertahan dan kian besar. Ada pula yang cuma hadir sebentar lalu tenggelam selamanya. 
E.B. White, dalam esai "Here is New York" yang terkenal, mengatakan bahwa ada tiga New York. Satu milik orang-orang yang bercokol di dalamnya sejak lahir atau kanak-kanak, satu buat para pekerja yang umumnya datang dari kawasan-kawasan satelit, dan satu lagi milik para perantau—tidak menutup kemungkinan Banjarmasin juga sama.
Suatu saat, saya percaya, Banjarmasin akan menjelma jadi kota raksasa seperti kota-kota lain di dunia. Hari-hari ini, saya yang pendatang masih belum—dan mungkin tak bakal—bisa mendefinisikan kota ini seperti E.B. White untuk New York, atau memberi istilah seperti Seno Gumira Adjidarma untuk Jakarta—Homo Jakartensis.
Urang Banua asli memberi Banjarmasin identitas, rombongan pekerja ulang-alik memberinya kesibukan, dan para perantau memberinya gairah. Semuanya, meminjam istilah Sandi Firly, adalah Homo Banjarmensis.  
Setelah melihat potongan video tersebut di Instagram, saya bergegas membuka kanal youtube Bilik Bersenyawa, dan mencari judul “Philosophia Manusia”.  
Oh, mengapa The Thinker?
Hidup ini, tulis Sandi Firly dalam esai “Mobil dan Simbol”, memang penuh dengan  mitos dan simbol-simbol. Mulai sejak lahir, manusia sudah diberi tanda-tanda dan simbol-simbol. Munir menggunakan patung terkenal buatan Auguste Rodin, The Thinker—yang bagi sejumlah orang adalah perwakilan dari Dante yang sedang memikirkan puisi The Gates of Hell, dan bagi sebagian yang lain patung tersebut  mewakili filsasfat, bahkan ada pula yang menganggap sebagai simbol manusia modern—sebagai upaya membuka wawasan tentang khazanah kesenian dan estetika luar negeri.   
Suatu kali, saya dan Angga, sang vokalis Penembak Jitu, berbincang-bincang di kedai Metafora Kopistik, tentang banyak hal termasuk lagu Philosophia Manusia.
Banyak orang yang berfilsafat tentang segala hal tapi masih gentar dengan wajah kematian. Bagi seorang yang mencari, terang Angga, tak cukup hanya dengan mengandalkan kemampuan berfilsafat atau gagasan brilian dari filsuf-filsuf terkenal. Sebab gagasan atau keyakinan yang datang dari orang lain hanya sebatas gagasan atau keyakinan pinjaman semata.
“Jawaban untuk segala pertanyaan,” kata Angga sembari menyapu keringat di dahinya, “hanya ada di dalam diri sendiri.”
Tujuan manusia, katanya lagi, adalah untuk mengenal dirinya sendiri. 
Lirik demi lirik ia jelaskan kepada saya secara lebih hangat dan dalam. Saat itu, kedai tempat kami berbincang sedang semangat-semangatnya karena suasana di dalamnya dihidupkan oleh musik yang berisik dan obrolan yang hangat yang juga kian mendalam.
Video musik yang digarap Munir dan kawan-kawannya lumayan membikin pikiran saya terlempar kembali ke kampung halaman. Tapi, lirik-lirik yang dinyanyikan Angga dan gebukan perkusi Yulian membuat saya seolah-olah paham soal penderitaan laki-laki dan memandang dunia dengan gagah berani seperti Chairil Anwar.
“Dengan perlahan kau berkenan kembali.” Lirik tersebut seolah dibisikkan Angga di telinga saya, dan bisikkan itu menggugah.
Seperti yang diterangkan Munir kepada Kanalkalimantan.com bahwa karya dalam bentuk video musik ini merupakan persembahan untuk semua yang berusaha membuat kota Banjarmasin menjadi lebih baik, semua yang muak dan ingin keluar, dan semua yang telah menemukan jalannya di kota Banjarmasin. Ataupun semua yang masih mencarinya seperti saya. Bagi Munir yang bercokol sejak lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Banjarmasin saja mengaku masih mencarinya, bagaimana dengan saya yang baru lima tahun hidup di sini?
Saya pernah menceritakan satu keluarga yang saya temui di suatu tempat di sudut kota Banjamasin kepada Munir. Kepala keluarga itu mengisahkan pengalaman hidupnya yang pahit dan indah kepada saya dengan cara yang indah pula. Tak ada kesedihan di wajahnya ketika ia mengisahkan pengalaman hidupnya. Sepanjang bercerita ia senantiasa tersenyum. Saya kira, si kepala keluarga itu, tahu bagaimana cara merayakan hidup.
Apa pun nama dan apa saja yang sudah dicapai kota ini sepanjang ia ada, siapa pun yang sudah menemukan dan telah berhasil mendefinisikannya, baik mereka yang terperosok semakin dalam maupun mereka yang punya tempat yang lebih tinggi, apa saja, selama ia dan mereka yang pernah hidup dan berusaha menghidupkan kota ini patut dicatat, “keduanya  dapat tempat.”
Beberapa saat setelah obrolan saya dan Angga, juga Yulian selesai, saya pulang.
Saya menuang sekaleng Bintang ke dalam dua gelas berukuran kecil. Saya membuka pintu kamar di lantai atas dan menyaksikan langit yang terang, lebih terang dari lima tahun lalu ketika saya belum kenal Angga dan Penembak Jitu.
Lima tahun lalu saya belum tahu dan tak kenal Munir. Lima tahun lalu belum ada perpustakaan Warung Baca. Saya memutar lagu Philosophia Manusia, puluhan kali sejak pertama kali  saya membawa rilisan fisiknya ke perpustakaan Warung Baca, dan menelan isi gelas yang pertama untuk Banjarmasin dan segala yang ada di dalamnya.
Gelas yang kedua, harapan untuk Penembak Jitu agar bisa bertahan lebih lama—seratus tahun mungkin bukan harapan yang berlebihan. 

Friday, August 2, 2019

August 02, 2019

MENGENAL MAFIA PEMANTIK QOLBU LEWAT "LAST MAN"



Pada penghujung tahun 2016 lebih ketika banyak kasus besar terjadi layaknya, kasus Mirna yang dengan lambat sekali terselesaikan kemudian disusul oleh kabar ihwal penistaan agama lalu digelarlah serangkaian acara 212 dan semacamnya, ketika itu pula Mafia Pemantik Qolbu disingkat MPQ lahir di Jakarta selatan yang kemudian langsung mempersembahkan kepada belantika musik Indonesia dengan merilis dua buah single sekaligus, yakni “Rupa-rupa” & “Bubatual” yang dirilis pada 18 Februari 2019 kemarin via kanal You Tube.

MPQ  yang dimotori oleh Putra Alit Djarot (vokal, gitar, midi), Daniel Hasudungan (vokal latar, gitar, keyboard, piano), Rakaputra (vokal latar, bass), Abram Dionisius Antory (vokal latar, lead gitar) Rakha Agung Suryandaru (drum, perkusi). Beramunisikan alternative rock, mereka mengaku terinspirasi macamDewa 19, The Beatles, Radiohead, Pink Floyd, Flower Kings dan masih banyak lagi.
MPQ  juga berseloroh ihwal target terdekat mereka  “Banyak tawaran manggung aja mas apalagi event besar hehe, sisanya ya semoga rilisan baik digital maupun fisik (kalo ada) diterima sama orang-orang” Setelah “Rupa-rupa” & “Bubatual” lahir sebagai anak rohani MPQ berselang satu bulan lahirlah “Last Man”(rekomendasi untuk didengarkan), kemudian sepekan lalu lahirlah “Renung” 
single sudah bisa di nikmati melalui platfrom musik Spotify, iTunes, Deezer dan Apple Music yang pastinya masuk dengan sopan sekali ke telinga pendengarnya.

Bisa dikatakan “Last Man” adalah hal yang baru dan sangat berbeda dari materi MPQ sebelumnya, liriknya pun ditulis dalam bahasa Inggris yang bercerita tentang seseorang yang mengabaikan realita “Orang ini sih sadar kalo lebih banyak yang melek sama realita dibandingkan sama yang suka ngayal, Tapi segitu enggak pedulinya dia sama realita dan lebih milih untuk percaya sama khayalannya”

Terakhir ada pesan dari Mafia Pemantik Qolbu untuk pembaca Bilikbersenyawa, “Ayo dengerin MPQ di semua layanan streaming musik yang tersedia, tonton youtube MPQ dan tunggu rilisan-rilisan berikutnya dari MPQ, selain itu juga jangan males eskplorasi musik-musik dari band lokal seluruh Indonesia, banyak yang bagus kok kalo mau sabar ngulik”