Thursday, July 2, 2020

July 02, 2020

RENJANA: TERAPI ALA "CRAZY ZAL"


2 tahun semenjak perilisan single pertamanya yang berjudul "Yes It's Me" sebagai awal mula karirnya dalam skena Rap di pertengahan tahun di tahun 2018. Zaldi a.k.a "Crazy Zal", salah satu musisi hip-hop solo karir dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan, yang juga menjadi salah satu peran pendukung sebagai DJ dari grup rap "Wasaka".

Pada awal tahun 2020, tepatnya pada tanggal 13 Januari 2020. Crazy Zal membuat single bersama salah satu rapper dari grup rap Wasaka yaitu Galang a.k.a "Drip Kuatro" yang berjudul "Brace Yourself". Usai featuring-nya, Crazy Zal kembali meluncurkan sebuah single berjudul "Love Therapy" pada bulan Maret 2020 yang dibumbui soal masalah percintaan. Single terbaru kembali diluncurkan oleh Crazy Zal yang berjudul "Renjana" pada 29 Juni 2020. Lagu "Renjana"  menceritakan tentang seseorang yang memiliki tekad hati yang kuat untuk keluar dari penderitaan yang telah dialaminya, yang pastinya usaha yang dilakukan tidaklah mudah tetapi ia percaya dengan tekad kuat diri sendiri. 

"Sebenarnya di lagu Renjana ini merupakan pengalaman pribadi saya sendiri, seperti seakan saya lagi curhat di lagu ini apa yang telah terjadi dalam hidup saya, semuanya saya tuangkan dalam penggal liriknya. Bagi saya ini bisa menjadi sebuah terapi untuk saya sendiri buat ngilangin sedikit banyaknya beban yang saya alami, tetapi saya usahakan lagu ini dikemas secara universal agar untuk para pendengarnya yang kemungkinan juga mengalami hal serupa relate dengan lagu tersebut." menurut pendapat Crazy Zal

Single "Renjana" lengkap dengan videoclip nya dapat dinikmati di layanan streaming musik Soundcloud dan Youtube-nya " Crazy Zal".

Crazy Zal - Renjana
- Lyric by Crazy Zal
- Music Produce by River Beats
- Mixing & Mastering by Crazy Zal
- Editor Video by Crazy Zal
- Shooting Video in Banjarmasin


Tuesday, June 30, 2020

June 30, 2020

YARD STREET MARKET: PEKARANGANNYA LOCAL CLOTHING BRAND


Resahnya para pelaku industri kreatif di bidang clothing line lokal, karna berkurangnya kepedulian anak muda sekarang dengan produk lokal, membuat mereka akhirnya berinisiatif untuk guyub dan membentuk platform baru yang dinamakan Yard Street Market.
Tidak hanya untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat akan produk lokal, mereka juga punya visi agar bisa memperkenalkan lebih lagi, bahwa produk lokal sudah mulai bertuh kuantitinya, serta bisa bersaing dengan produk luar lain.

Wahyu, sebagai salah satu penggagas, mengatakan kalau project ini diusahakan akan rutin diadakan, serta tentunya dengan konsep berbeda-beda, agar bisa menarik perhatian masyarakat lebih luas lagi. 
Ia juga berharap, dengan adanya project ini, kedepannya bisa memantik semangat kawan-kawan lain diluar sana yang ingin membuka usaha serupa di bidang clothing.
“Untuk tergabung dalam bagian project ini, semua bisa ikut berpartisipasi, asalkan punya merch/product dengan label sendiri” tambah Wahyu.
venue yard street market

Yard Street Market diadakan hari Sabtu, tanggal 4 Juli 2020 di Kawai Kofie, dari jam 4 sore.
“Akan sangat meriah, karna dihadiri 15 clothing line & merch lokal. Beberapa diantaranya ada Weelsbranch, Earf, Sunday Chips, Tsabit, Shine Shoe, Dimension, dan yang lain tak kalah keren produknya”. tutup Wahyu

Yok datang ke Yard Street Market genkz!
Support our local product, biar industri kreatif kita makin berkembang. Sampai bertemu disana ya.

------------------
Author: OLAN

Saturday, June 27, 2020

June 27, 2020

DEEMUST - YUNG MAC, TENTANG MENGHARGAI REVOLUSI GENRE MUSIK


Scene solois rapper lokal sekarang makin rame, diimbangi dengan produktifnya karya-karya mereka yang muncul di setahun kebelakang.
Salah satunya adalah, "Deemust", musisi hip-hop dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan yang memulai karir di awal tahun 2017 dengan single berjudul "Dirty Rat" sebagai solo karir, kini juga menjadi salah satu anggota dari grup rap "Wasaka". Lagu lagu nya pun sudah bisa di nikmati via Soundcloud, YouTube, Spotify, Apple Music dll.

Usai melepas single bersama salah satu rapper dari Jepang "Lil Chucky", pada akhir tahun lalu, Deemust kembali melontarkan lagu baru "Yung Mac" lengkap beserta videoklip nya. Kali ini dengan nuansa beat ala $uicideboys$, Deemust mencoba membawa vibe dark trap kembali hidup lagi ke skena lokal di Kalimantan Selatan.

Di lagu baru nya ini dia mencoba bercerita tentang keresahan nya terhadap para pemain lama di Hip-Hop yang tidak bisa menghargai style baru seperti mumble rap, emo rap, autotune dll.

"Gini ya... gausah hanya di musik rap deh, perubahan atau revolusi itu akan terjadi pada semua hal, dan itu cepat atau lambat pasti akan terjadi. Nah kebetulan sekarang terjadi pada rap, sudah banyak sounds baru yang gak melulu hanya boombap oldschool. Aku gak resah dengan oldschool nya ya, aku juga main oldschool kok bareng Wasaka. Aku resah nya terhadap oldhead kolot yang emang keras kepala gak mau nerima perubahan ini", menurut pendapat Deemust.

Tidak hanya "Yung Mac" dalam waktu dekat Deemust juga akan merilis single lagi pada tanggal 3 Juli nanti. Kali ini dia mengajak salah satu kawan nya dari Bali "Oz the Oddz" sebagai featuring pada track tersebut. Rencana nya 2 rilisan ini akan jadi awalan untuk rilisnya EP "Back from the Dead" yang akan ia rilis pada tahun ini.

Sambil nungguin rilisan nya, mending cek dulu deh videoklip "Yung Mac" di bawah ini genkz!




---------------
Author: OLAN

Friday, June 26, 2020

June 26, 2020

RIVERCITY FAMZ: SEBUAH JANJI AKAN KONSISTENSI


“How We Deal” adalah track kedua dari Hip-Hop Famz asal Banjarmasin: River City Famz, Hadir dengan format video lirik yang digarap oleh Adiva dan dirilis di chanel youtube Borneo Clan. 

Diproduseri oleh Teguh a.k.a Mattcoast dengan rangka 7 verse yang diisi 7 Emcee yakni: Imam a.k.a Kid Nasty, Gaby a.k.a OhMyGab, Ronal a.k.a Kiddlost, Aziz a.k.a RainTwenty8, Muklis a.k.a Muclles, Andi a.k.a ILL Achmed, dan Ulis a.k.a Swift Mix.

Sesuai judul nya “How We Deal”, track ini bercetak biru bagaimana mereka sampai saat ini tetap bersepakat dengan Hip-Hop. Dari cerita awal melangkah, hal-hal yang menghalang, dan cara melewati halangan tersebut hingga bisa tetap teguh di jalur adalah beberapa elemen dari track ini.

Track yang secara sengaja tak sengaja menjadi janji, janji untuk tetap konsisten dalam passion diharapkan bisa menginspirasi kawan-kawan lain baik dari skena Hip-Hop, Metal, Hardcore, Skate, BMX, Fotografi, Videografi, Artworker dan semuanya untuk tetap menjalani hidup penuh makna dan semangat dengan dan berkat passion.

River City Famz - How We Deal
-Recorded at: Lothang Labs
-Mixing & mastering: Mattcoast
-Produce by: Mattcoast
-Lyric writen & performed by: Kid Nasty, Ohmygab, Kiddlost, RainTwenty8, Muclles, ILL Achmed, Swift Mix.
-Visual: Adiva


Tuesday, June 23, 2020

June 23, 2020

PANDEMINIAFUZZ: PENANDA SEBUAH PERISTIWA


Pada setiap peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di dunia ini salah satu yang jadi penanda adalah monumen-monumen karya yang dibuat oleh para seniman. Barang kali kita bisa ingat bagaimana Pelukis dan arsitek renaisans asal Italia, Raphael terkenal dengan karyanya yang berjudul Sistine Madonna (Madonna di San Sisto) untuk komposisi tokoh besarnya di Vatikan, Roma. Karyanya dikagumi karena kejelasan bentuk dan kesederhanaan komposisi untuk pencapaian visual berideologi Neoplatonis; mengangkat keagungan manusia. Dari karya seni di atas ini kita bisa melihat bahwa karya seni tidak melulu soal hiburan namun juga memiliki nilai-nilai esensial yang sangat kuat sebagai sebuah corong ideologi atau gerakan suatu kelompok tertentu. Sebuah karya seni tertentu kemudian akan memiliki label yang bermacam-macam sesuai dengan karakteristik dan pesan-pesan yang dibawanya kepada para apresiator.

Saat tulisan ini diketik dari kota Banjarbaru ada sebuah band yang kata mereka beraliran Blues mengeluarkan sebuah lagu baru. Jika melihat dari judul, teks lagu dan videonya maka akan sangat terasa bahwa lagu ini lahir dari kegelisahan mereka terhadap pandemic covid-19. Lagu ini sendiri mereka beri judul Pandeminiafuzz dari The Barbar. Isi dari teksnya yang jika kita dengarkan banyak membahas soal ketakutan, ketidakperayaan dan kesimpangsiuran informasi. Seakan-akan melalui lagu ini mereka ingin menyampaikan bahwa pandemi ini bukan sekedar untuk ditakuti tetapi disikapi secara lebih cerdas.
Ada satu kalimat penting yang saya kira sangat jarang biasanya masuk sebagai teks lagu pada Blues era sekarang atau Rock Progresif yaitu sebauh teks yang isinya doa; “Tuhan cepatlah ini dimusnahkan”. Kalimat ini seperti sebuah katarsis dari semua isi teks pada lagu Pandeminiafuzz. Sebuah kalimat pamungkas yang menjadi rujukan  bahwa tidak ada hal yang bisa dipercayai lagi selain Tuhan.
Dalam konteks ini The Barbar seperti sedang bermain capture atas banyak tayangan yang juga menjadi latar video lagu mereka. Secara garis besar mengarah pada praktik konspirasi itu sendiri. Pandeminiafuzz tanpa sadar juga sedang terbawa arus isu-isu yang beredar. Namun tentu itu tidak masalah karena isu-isu tersebut kemudian menjadi bentuk baru sebagai sebuah simbol pengingat kita atas sebuah tragedi wabah di tahun 2020. Kita patut berterima kasih kepada The Barbar dan para seniman lainnya yang berhasil membangun monumen karya sebagai sebuah respon atas kejadian ini.
Pandeminiafuzz tidak sekedar potret peristiwa The Barbar. Namun pada lagu ini pula kita bisa menyaksikan The Barbar yang Blues-nya mulai goyah. Takaran genre pada lagu ini lebih condong ke Rock, distorsi yang crunchy, pola gebukan dan sound drum yang mirip dengan pola-pola era 90’an sangat terkesan lebih mengarah pada lead-lead Rock daripada Blues. Jenis vocal yang berat dan cenderung ditahan juga memberikan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan Blues yang pada dasarnya adalah bentuk vokal yang ringan dan melismatis.
Jika kita mau menilik, kebiasaan dari Lagu-lagu Blues lebih liris daripada naratif; penyanyi Blues lebih banyak mengekspresikan perasaan daripada bercerita. Untuk mengekspresikannya secara musikal, pemain Blues biasanya menggunakan teknik vokal seperti melisma (mempertahankan suku kata tunggal di beberapa nada), teknik berirama seperti sinkopasi, dan teknik instrumental seperti "choking" atau membengkokkan senar gitar pada leher atau menerapkan slide logam atau bottleneck ke senar gitar untuk membuat suara mirip voicel.
Pandemiafuzz tidak lagi liris dan sangat naratif sehingga pola vokal yang dibawakan vokalisnya pun bergaya storytelling sekali. Teks lagu menggunakan kalimat-kalimat yang akhirannya memiliki bunyi yang sama. Choking khas Blues pun begitu minimalis yang paling terasa hanya pada bagian intro saja. Ada bagian yang menurut saya itu adalah bridge yang sangat Panjang. Saya kemudian membayangkan bagaimana jika musik ini hanya didengarkan dan tidak memilii visual? Tentu ada titik kejenuhan karena hampir 22 Bar kita diajak mendegarkan pola-pola Blues sederhana yang sesuai dengan apa yang saya dengar haya ada dua pola besar yang dominasinya ada pada gitar. Reff pada lagu ini (jika memang kata Pandeminiafuzz bisa kita anggap sebagai reff) berulang beberapa kali sebagai penekanan utama tanpa ada progresi melismatis vokal.
               Setahu dan yang pernah saya dengar The Barbar telah merilis Bakar Saja Ijazahmu, Nyanyi Teriak, Hoax (ini yang saya temukan di kanal youtube mereka). Lagu Pandeminiafuzz memang yang paling beda baik dari genre sampai karakter musikalnya. Pandeminiafuzz seperti terinfluence dengan .Feast. Gaya vokal dan struktur lagunya menurut saya mirip dengan .Feast. jika kita pernah mendengar karya-karya .Feast lalu kemudian mendengarkan lagu The Barbar “Pandeminiafuzz” saya yakin kita langsung tertuju pada warna vokal yang mirip. Hal ini juga diperkuat dengan tema yang dipilih yaitu kritik sosial. Pertanyaan saya kemudian kenapa vokalis The Barbar merubah warna suaranya yang sudah berkarakter Blues dan renyah dengan warna vokal (maaf, mirip) Baskara vokalis .Feast. Vokal seperti Baskara ini sangat mudah dikenali karena Baskara di Indonesia ini yang menggunakan warna dan gaya vokal seperti itu dan kebetulan dia lagi terkenal. Jadi tentu saja perubahan yang terjadi ini kemudian bisa dimaknai berbagai macam.

               Namun meskipun mirip bukan berarti plagiasi. Kemiripan dalam membuat karya adalah sesuatu yang lumrah karena tidak ada sesuatu yang baru di bawah langit. Selain itu tentu karena kita bisa saja saling mempengaruhi atau terpengaruh. Pandeminiazfuzz pada akhirnya lahir sebagai sebuah penanda peristiwa yang secara ekplisit ditujukan pada wabah covid-19 dan secara implisit perubahan karakter musikal The Barbar itu sendiri. Pandaminiazfuzz akhirnya tidak sekedar penanda peristiwa pandemic covid-19 namun juga hadir sebagai penanda rasa bermusik baru The Barbar. Setidaknya kalian telah menancapkan satu monumen karya sebagai penanda telah terjadinya sebuah musibah kemanusian besar di dunia ini. Selamat atas lagu barunya dan terus berkarya istiqomah dalam nge-Blues. 

----------------

Novyandi Saputra, artistic director NSA Project Movement, sebuah kelompok pergerakan berbasis budaya. Lulusan program pascasarjana Penciptaan dan Pengkajian Musik ISI Surakarta. Etnomusikolog & Komponis yang gagasannya berasal dari bunyi-bunyi instrumen tradisional Kalimantan-Nusantara. Aktif menulis tentang kesenian, terutama musik. Salah satu hasil riset etnomusikologi dirinya tentang musik tradisional Kalimantan Selatan telah dibukukan dengan judul Bunyi Banjar


Sunday, June 21, 2020

June 21, 2020

SKULLABORATION: BUKTI KONSISTENSI WAHYUDI TERJUN DI DIGITAL ARTWORK SELAMA BELASAN TAHUN


Wahyudi Artwork, yang dikenal dengan disain digital art nya seputar Dark Art & Mecha Spesialist, kini kembali memberi ruang ke artworker-artworker untuk berkolaborasi.
Sebelumnya, karyanya yang bertema Anubis Collabs, mendapatkan banyak respon positif dari para artworker lain. Hasilnya, bisa dilihat di Highlight Story instagram @wahyudi.artwork.

Kali ini, bertema Skullaboration, Wahyudi ingin bisa mendapat respon yang banyak &  ikutan challenge yang ia berikan. Wahyudi juga berharap, dunia digital art lokal dan nasional bisa saling mengenal satu sama lain, saling dukung , agar tetap bisa produkstif & bisa belajar bareng satu sama lain.

-----------
author: OLAN