Tuesday, June 23, 2020

PANDEMINIAFUZZ: PENANDA SEBUAH PERISTIWA


Pada setiap peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di dunia ini salah satu yang jadi penanda adalah monumen-monumen karya yang dibuat oleh para seniman. Barang kali kita bisa ingat bagaimana Pelukis dan arsitek renaisans asal Italia, Raphael terkenal dengan karyanya yang berjudul Sistine Madonna (Madonna di San Sisto) untuk komposisi tokoh besarnya di Vatikan, Roma. Karyanya dikagumi karena kejelasan bentuk dan kesederhanaan komposisi untuk pencapaian visual berideologi Neoplatonis; mengangkat keagungan manusia. Dari karya seni di atas ini kita bisa melihat bahwa karya seni tidak melulu soal hiburan namun juga memiliki nilai-nilai esensial yang sangat kuat sebagai sebuah corong ideologi atau gerakan suatu kelompok tertentu. Sebuah karya seni tertentu kemudian akan memiliki label yang bermacam-macam sesuai dengan karakteristik dan pesan-pesan yang dibawanya kepada para apresiator.

Saat tulisan ini diketik dari kota Banjarbaru ada sebuah band yang kata mereka beraliran Blues mengeluarkan sebuah lagu baru. Jika melihat dari judul, teks lagu dan videonya maka akan sangat terasa bahwa lagu ini lahir dari kegelisahan mereka terhadap pandemic covid-19. Lagu ini sendiri mereka beri judul Pandeminiafuzz dari The Barbar. Isi dari teksnya yang jika kita dengarkan banyak membahas soal ketakutan, ketidakperayaan dan kesimpangsiuran informasi. Seakan-akan melalui lagu ini mereka ingin menyampaikan bahwa pandemi ini bukan sekedar untuk ditakuti tetapi disikapi secara lebih cerdas.
Ada satu kalimat penting yang saya kira sangat jarang biasanya masuk sebagai teks lagu pada Blues era sekarang atau Rock Progresif yaitu sebauh teks yang isinya doa; “Tuhan cepatlah ini dimusnahkan”. Kalimat ini seperti sebuah katarsis dari semua isi teks pada lagu Pandeminiafuzz. Sebuah kalimat pamungkas yang menjadi rujukan  bahwa tidak ada hal yang bisa dipercayai lagi selain Tuhan.
Dalam konteks ini The Barbar seperti sedang bermain capture atas banyak tayangan yang juga menjadi latar video lagu mereka. Secara garis besar mengarah pada praktik konspirasi itu sendiri. Pandeminiafuzz tanpa sadar juga sedang terbawa arus isu-isu yang beredar. Namun tentu itu tidak masalah karena isu-isu tersebut kemudian menjadi bentuk baru sebagai sebuah simbol pengingat kita atas sebuah tragedi wabah di tahun 2020. Kita patut berterima kasih kepada The Barbar dan para seniman lainnya yang berhasil membangun monumen karya sebagai sebuah respon atas kejadian ini.
Pandeminiafuzz tidak sekedar potret peristiwa The Barbar. Namun pada lagu ini pula kita bisa menyaksikan The Barbar yang Blues-nya mulai goyah. Takaran genre pada lagu ini lebih condong ke Rock, distorsi yang crunchy, pola gebukan dan sound drum yang mirip dengan pola-pola era 90’an sangat terkesan lebih mengarah pada lead-lead Rock daripada Blues. Jenis vocal yang berat dan cenderung ditahan juga memberikan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan Blues yang pada dasarnya adalah bentuk vokal yang ringan dan melismatis.
Jika kita mau menilik, kebiasaan dari Lagu-lagu Blues lebih liris daripada naratif; penyanyi Blues lebih banyak mengekspresikan perasaan daripada bercerita. Untuk mengekspresikannya secara musikal, pemain Blues biasanya menggunakan teknik vokal seperti melisma (mempertahankan suku kata tunggal di beberapa nada), teknik berirama seperti sinkopasi, dan teknik instrumental seperti "choking" atau membengkokkan senar gitar pada leher atau menerapkan slide logam atau bottleneck ke senar gitar untuk membuat suara mirip voicel.
Pandemiafuzz tidak lagi liris dan sangat naratif sehingga pola vokal yang dibawakan vokalisnya pun bergaya storytelling sekali. Teks lagu menggunakan kalimat-kalimat yang akhirannya memiliki bunyi yang sama. Choking khas Blues pun begitu minimalis yang paling terasa hanya pada bagian intro saja. Ada bagian yang menurut saya itu adalah bridge yang sangat Panjang. Saya kemudian membayangkan bagaimana jika musik ini hanya didengarkan dan tidak memilii visual? Tentu ada titik kejenuhan karena hampir 22 Bar kita diajak mendegarkan pola-pola Blues sederhana yang sesuai dengan apa yang saya dengar haya ada dua pola besar yang dominasinya ada pada gitar. Reff pada lagu ini (jika memang kata Pandeminiafuzz bisa kita anggap sebagai reff) berulang beberapa kali sebagai penekanan utama tanpa ada progresi melismatis vokal.
               Setahu dan yang pernah saya dengar The Barbar telah merilis Bakar Saja Ijazahmu, Nyanyi Teriak, Hoax (ini yang saya temukan di kanal youtube mereka). Lagu Pandeminiafuzz memang yang paling beda baik dari genre sampai karakter musikalnya. Pandeminiafuzz seperti terinfluence dengan .Feast. Gaya vokal dan struktur lagunya menurut saya mirip dengan .Feast. jika kita pernah mendengar karya-karya .Feast lalu kemudian mendengarkan lagu The Barbar “Pandeminiafuzz” saya yakin kita langsung tertuju pada warna vokal yang mirip. Hal ini juga diperkuat dengan tema yang dipilih yaitu kritik sosial. Pertanyaan saya kemudian kenapa vokalis The Barbar merubah warna suaranya yang sudah berkarakter Blues dan renyah dengan warna vokal (maaf, mirip) Baskara vokalis .Feast. Vokal seperti Baskara ini sangat mudah dikenali karena Baskara di Indonesia ini yang menggunakan warna dan gaya vokal seperti itu dan kebetulan dia lagi terkenal. Jadi tentu saja perubahan yang terjadi ini kemudian bisa dimaknai berbagai macam.

               Namun meskipun mirip bukan berarti plagiasi. Kemiripan dalam membuat karya adalah sesuatu yang lumrah karena tidak ada sesuatu yang baru di bawah langit. Selain itu tentu karena kita bisa saja saling mempengaruhi atau terpengaruh. Pandeminiazfuzz pada akhirnya lahir sebagai sebuah penanda peristiwa yang secara ekplisit ditujukan pada wabah covid-19 dan secara implisit perubahan karakter musikal The Barbar itu sendiri. Pandaminiazfuzz akhirnya tidak sekedar penanda peristiwa pandemic covid-19 namun juga hadir sebagai penanda rasa bermusik baru The Barbar. Setidaknya kalian telah menancapkan satu monumen karya sebagai penanda telah terjadinya sebuah musibah kemanusian besar di dunia ini. Selamat atas lagu barunya dan terus berkarya istiqomah dalam nge-Blues. 

----------------

Novyandi Saputra, artistic director NSA Project Movement, sebuah kelompok pergerakan berbasis budaya. Lulusan program pascasarjana Penciptaan dan Pengkajian Musik ISI Surakarta. Etnomusikolog & Komponis yang gagasannya berasal dari bunyi-bunyi instrumen tradisional Kalimantan-Nusantara. Aktif menulis tentang kesenian, terutama musik. Salah satu hasil riset etnomusikologi dirinya tentang musik tradisional Kalimantan Selatan telah dibukukan dengan judul Bunyi Banjar