Sunday, June 21, 2020

FENOMENA BANTING HARGA: DERMAWAN ATAU AMATIRAN?



Halo Kanca sevisual dan pejuang Beauty Shot!

Belakangan kawan-kawan asosiasi (perkumpulan) jasa foto/video sedang resah sama beberapa oknum yang seprofesi.
Banyak oknum yang share soal harga jasa foto/video yang turun drastis terlalu murah. Harga ini bahkan sudah diluar nalar harga yang biasanya ditawarkan kepada klien.

Sebelum negara api (covid19) menyerang, pun masalah ini juga sudah menjadi problem bersama yang sering dibicarakan. Saat ini Pandemi covid19 memang faktor utamanya, tapi sebagai profesional/pekerja jasa harusnya punya batas limit dalam kalkulasi harga penawaran kepada klien.

imgflip.com
Jika salah satu oknum (sebut saja PH nganu) banting harga terlalu murah, impactnya bakal merusak harga pasaran. Imbasnya berganda, harga yang pernah ditawarkan akan menjadi harga pasaran, dan bisa mematikan usaha PH lain, atau akan mematikan usaha mereka sendiri.
Bukankah kita ingin usaha ini jangka panjang? Bukankah hobi yg dibayar itu lebih nyaman bro?
Jasa ini tidak hanya menjual tenaga bung! Kita bukan kuli pasar atau kuli bangunan.

Jujur, soal menertibkan harga bukan kapasitas saya. Tapi perlu disadari bung! tidak ada lembaga yang mengaturnya. Tp sebagai satu profesi ada etika di atas 'meja makan'.
Profesi ini bisa menghasilkan Produk yang bisa sama bagus, tapi boleh jadi proses, jenis dan cara makannya berbeda-beda. Paham?
Kalo belum yuk kita ngobrol lagi.

Tenang bung, disini saya tidak akan membuka 'kartu As' siapa pelaku atau buka pedapuran kita kepada publik.
Saya hanya akan mencoba pendekatan teori sederhana menentukan harga sebuah jasa.

Oke, sebelum terlalu jauh mari Kita mulai diskusinya. Kita fokuskan hanya untuk jasa foto/video wedding. Karna wedding cukup mudah untuk melihat produknya dan mudah melihat kalkulasinya.
Dan saya sendiri disini mencoba menjelaskan tanpa mau menghakimi siapapun. Karna kita sama-sama ingin jasa (industri) kecil ini 'sehat' dan berumur panjang. Right?

Perlu diingat, sebagian besar orang meletakkan profesi ini sebagai pekerjaan utama atau sebagai profesional. Artinya mereka bekerja menghasilkan uang untuk kehidupannya dari jasa ini. Sebagian lagi juga menjadikannya sebagai freelance Tapi perlakuannya tetap profesional. Nah yg terakhir adalah kelompok atau individu yang baru masuk kedalam dunia perweddingan. Kita sebut aja 'fresh graduate'. Katakanlah baru setahunan atau baru dapat 10-12 project.

Fresh graduate sering gagal paham cara menentukan harga sebuah jasa. Mungkin karena modal kameranya dibelikan orangtua atau minta dari jin kaleng! 😁

Rerata kelompok profesional membuat usahanya berizin, bentuknya bisa CV, PT atau perusahaan. Karna sebuah perusahaan maka produk yang mereka kejar juga beranekaragam, mulai foto produk, catalog, company profile, iklan layanan (PSA), Iklan produk, event dokumentasi, Wedding dan produk visual lainnya.

Nah diwedding mereka mengelompokkan klien dengan beberapa segmentasi, biasanya klien jenis menengah bawah (middle-down), sampai menengah keatas (middle-up). Mereka punya targeting, strategi dan positioning dalam menentukan pasar. Salah satu strateginya ikut vendor WO (wedding organizer) untuk mempermudah jaringan mendapatkan klien.

Professional biasanya sudah punya karyawan tetap dan freelance. Nah kelompok freelance biasanya ikut dalam kelompok ini. Tapi bisa bergerak sendiri mencari project tapi biasanya mengerjakan segmen middle down diluar WO.

Kelompok profesional biasanya memiliki Paket penawaran harga berbeda-beda, biasanya tergatung jumlah tempat pelaksanaan wedding, berapa lama/hari acara berlangsung, jarak domisili PH-klien, cost produksi/post produksi, equipment, jumlah SDM, harga jasa hingga kuantitas-kualitas yang dihasilkan.

Nah kelompok fresh graduate cenderung berangkat dari kesamaan hobi, atau hanya kegemaran bereksperimen mem-foto/video yang masih mencari-cari jam terbang (portofolio). Dengan modal kamera dan laptop dari ortu plus Lut-Lutan template sudah bisa ambil job dari klien ko.

Pemahaman ini tidak juga salah, tapi yang tidak mereka pahami adalah bahwa mereka
masuk di bidang jasa yang sudah ada. Artinya bidang jasa ini banyak pelakunya dan ekosistem sudah berjalan sejak lama. Seperti halnya pendatang dari pulau lain datang kepulau kita, mereka pasti akan beradaptasi dengan lingkungan sekitar tanpa merusak ekosistem yang sudah ada.
Jadi wajar rasanya jika pendatang 'permisi' dulu, nanya-nanya dulu, belajar dulu, ujar urang banjar.. "banga-nga dulu hanyar bepender".

Usaha bidang jasa sebuah bisnis yang menggunakan tenaga, ilmu dan juga keahlian. Artinya ada investasi yg dibangun dan itu semua perlu pengorbanan pemikiran, tenaga, waktu dan materi.

Nah permasalahan yang kerap terjadi, fresh graduate cenderung menyamaratakan semua segmen. Siapapun kliennya akan dipukul rata harganya. Hingga terlihat tidak siap jika bertemu dengan klien besar (big fish) atau jenis acara wedding yang berbeda. Penawaran harga paket tidak berdasarkan nilai perhitungan yang benar asal tembak, akhirnya profesi ini menjadikan mereka sulit bertahan dalam membangun usaha bisnisnya sendiri.

Efek selama mereka mengerjakan project murah, imbasnya tidak main-main. Bisa berimbas menjadi harga yang lekat dipasaran. Berapa orang yang akan merasakan dampaknya menjadi kesulitan untuk mendapatkan harga normal.
So! Buat temen-temen yang baru masuk usaha ini, kami memohon untuk beradab sebagai pendatang. Dan banyak belajar dari mereka yang sudah berada lama di usaha ini.

Mari kita bahas berapa minimum harga jasa untuk jasa foto/video. Walaupun terlihat sama tapi treatment pekerjaan untuk foto dan video tentu berbeda.
Dalam prosesing di post produksi pekerjaan video tentu lebih berat dari foto, pun juga produksinya. Video memerlukan lebih banyak equipment dan SDM lebih banyak dari foto. Dan masih banyak bertimbangan lainnya.

Nah yang pasti foto dan video punya treatment menentukan harganya hampir mirip. Mari kita jabarkan yang umumnya saja.
Berikut perhitungannya :
- cost pra produksi (pitching klien, survey lokasi, planning rundown).
- cost produksi (transportasi, konsumsi, akomodasi)
- cost post produksi (PC/Laptop, listrik, internet) sesuai durasi pengerjaan dan produk yg dihasilkan)
- harga sewa alat (kamera, lensa, tripod, flash, microphone, tripod, stabilizer dan tools lainnya) walaupun milik sendiri alat wajib dikenakan harga sewa.
- harga jasa (fotografer, pengarah, editor, runner, videografer)
- depreciable assets alat (penyusutan harga aset)

Nah untuk point terakhir kita perlu perhitungannya. Apa alasannya penyusutan aset perlu dihitung.

Pada prinsipnya semua perhitungan paket yg dibuat harus memiliki nilai tawar. Dan kita harus memiliki harga limit dari penawaran. Tapi bukan berarti setengah harga dari paket. Atau bahkan lebih rendah lagi asal dapat klien. Yang ini kita sebut penyakit!

Tujuan tulisan ini supaya kita lebih realistis melihat jenjang karir, supaya naik kelas jadi fotografer/videografer yang lebih mapan, dan pasar yang lebih mahal dengan kualitas pelayanan lebih unggul lagi.

Sampai ketemu di pembahasan penyusutan harga aset.

---------------
Credit by alemo films