Friday, March 15, 2019

BAJAK BIJAK : SOLUSI ALTERNATIF UNTUK PENIKMAT KARYA





Banyak seruan dan tak sedikit mengeluh ihwal pembajakan oleh para pencipta karya seni yang mengamini UU Hak Cipta khususnya untuk melindungi hasil karya mereka, sebagai penikmat tentu tidak bisa tidak untuk ikut terjun langsung dan menjalankan cara ini demi memudahkan mereka agar bisa menikmati hasil karya pencipta tanpa perlu beli mahal-mahal karyanya yang sudah ada. Mulai dari buku, musik, hingga film tak bisa luput dari pembajakan ini. Kepuasan tersendiri bagi para pemodal besar yang bergerak dalam sistem pembajakan. 

Seruan demi seruan, kampanye sana sini mulai digerakkan demi untuk menghilangkan budaya buruk semacam ini, namun tak serta merta bisa begitu saja menghilangkannya dari dunia. Karena yang pasti adalah kepastian yaa kalau tidak pasti berarti pengharapan-pengharapan yang berujung pada kesia-siaan hahah. Oke yang pasti itu sedikit banyak kita juga pernah mengamalkan hal ini dalam kehidupan yang serba mahal ini tapi dalam skala kecil, bujur ?  contohnya saja dalam hal download lagu cuma-cuma yang bermodalkan kuota internet semata kita sudah bisa menikmati karya mereka, atau membajak teman yang baru jadian ? Eh itu termasuk golongan pembajakan apa ya ?


Dari buku saja bisa kita lihat buku yang paling banyak di bajak adalah buku bergenre cinta-cinta ci teng teng hei kau kau kawan terlihat cengeng eh sorry itu liriknya Marjinal dkk, bercanda ya, kalian boleh membaca buku apa saja mau itu tentang agama, cinta, filsafat atau mempelajari tentang agama lain sekalipun tak mengapa itu hak masing-masing tapi ingat mempelajari dan mempercayai adalah dua hal yang berbeda yaa kalau sewaktu kita membaca ada hal yang tidak sesuai dengan hati nurani jangan dipaksakan bahaya Bro.

Tak luput buku best seller dari Grameshe yang menggiurkan para pemodal rakus yang bergerak di sistem pembajakan ini sendiri. Ratusan ribu harga buku berubah sekejap menjadi puluhan ribu. Kertas bagus berwarna putih yang halus jika disentuh menjadi berwarna lusuh dengan tinta tulisan yang kadang-kadang miring, kadang juga tak jelas hurufnya.




Kemudian pada musik yang sangat membantu manusia untuk tetap hidup bahagia di dunia yang semakin hari kian panas ini, yaa panas apalagi untuk tahun ini, you know lahh ?.  “Konsep hak cipta diberangus di era pemerintahan Juanda pada 1958 sebenarnya untuk menggandakan buku, jadi belum ada kaset atau CD waktu itu nah masuk di era 70-an & 80-an, baru ditemukan tekhnologi yang  dinamakan kaset. Karena kita sudah nggak tergabung di konvensi Bern (persetujuan internasional tentang hak cipta ) ya orang bebas akhirnya untuk membajak, bisa di bilang industri musik Indonesia dari situ sejarahnya, jadi kalau sebagian besar orang sekarang nggak beli CD dan belanja musik ya wajar” kutipan dari Buku QE : Kreativitas Di Dunia Yang Tidak Baik-Baik Saja, dengan Interview bersama Wendi Putranto





Di dunia perfilman juga menjadi angin segar bagi kalian yang tak bisa tidak sudah pasti punya film bajaan HAHA! Maupun di komputer, laptop, atau hp sekalipun. Lalu adakah solusi untuk permasalahan di atas ?

Solusinya dengan “Bajak Bijak” jadi begini jika karya cipta oleh para seniman yang berkelindan di Dunia macam buku, musik, film.  Jika kita memilih jalan pro atau anti pembajakan semestinya menurut aku tidak ada pilihan yang bijak diantara kedua pilihan tersebut. Jadi begini kita adalah manusia yang hidup di negara ketiga. Kebutuhan untuk menikmati karya-karya laiknya film, buku, musik itu memang penting, tapi bukannya kita masih harus berkutat ke hal-hal esensial untuk agar tetap bisa survive ? 

Bayangkan jika kalian berada di posisi anti pembajakan bosquewh, dalam satu bulan saja sudah berapa film, album, buku yang rilis berbayar di seluruh penjuru dunia ?. pastinya ada karya bernas lahir juga setiap bulannya, Misalkan tiket film di bioskop 60 ribu dan album baru 50 sampai 100 ribu, belum t-shirt nya seharga 120 ribu dan jika masih berkutat dengan gajih UMR kita hanya bisa menikmati sedikit dari karya tersebut, dengan membajak yang bijak adalah solusi. Mereka yang sudah mendunia dan artist-artist, hingga pembuat film lainnya yang kita download beramai-ramai secara ilegal dan belum pernah ada berita mereka bangkrut karena di bajak.

Berbeda halnya dengan kawan-kawan seniman lokal yang harus menabung mati-matian demi untuk biaya rekaman atau menerbitkan buku sampai menahan rasa lapar agar bisa menghasilkan sebuah karya seni, tentu kita juga harus menerapkan asas solidaritas terhadap sesama, nah yang seperti ini jika masih ada oknum yang membajak sebuah karya seni, mereka adalah seburuk-buruknya manusia, justru seniman ini yang harus kita dukung, jangan hanya “Support Your Local…..Blablabla” jika suka dengan karyanya ya beli gak punya uang jangan di bajak simpel saja

Coz, memperkaya orang kaya itu ga asik Broo. Trims

Assallamuallaikum!