Friday, December 10, 2021

ARUS ZAMAN YANG BERBEDA: ANTARA HADIR DAN TIDAK HADIR

Pameran Arus Zaman Yang Berbeda dari munir yang diselenggarakan pada 22-27 november 2021 kemarin di kota Banjarbaru ini sangatlah positif, menjadi higlight atau perhatian dari masyarakat karena sebelumnya sempat sangat susah membuat event di saat pandemi karena beberapa izin yang susah. Akhirnya munir berhasil membuat langkah baru atau lembaran baru untuk para seniman di Kalimantan Selatan membuat pameran di musim pandemi sekarang.


Kalian pasti bertanya-tanyakan kenapa kota Banjarbaru bisa menjadi opsi labuhan seorang munir? Karena selain izinnya yang lumayan mudah di kota Banjarbaru, pemikiran atau pola berpikir masyarakatnya cenderung lebih open minded dalam aliran seni dan bisa menerima karya seorang munir, selain itu ada beberapa hal yang menunjang juga seperti banyaknya space yang masih tersedia dan banyak hal lainnya.


Konsep aliran seni yang munir tawarkan yaitu Ekspresionisme atau yang biasa kita kenal dengan Art Brut, yang mengartikan tentang mengungkapkan emosi atau hal yang lagi dirasakan dalam diri si pelukis. Konsep lebih ke realita dan sosial yang munir rasakan dan diterjemahkan menjadi bentuk visual, yang bisa dinikmati oleh orang banyak.

Menggambarkan  apa yang dirasakan dan diinginkan oleh si munir yang menjadikan objek atau bentuk-bentuk resistensi dalam dirinya. Perjalanan pameran ini berawal pada mei 2021 di bandung lalu November di Kalimantan kota Banjarbaru lanjut Desember di Samarinda.

Pameran ini ikut menggandeng 2 seniman di Era yang berbeda seperti bapak. Misbach Tamrin pada era 60-an sekaligus senior munir waktu di ISI Yogyakarta dan bapak. Muslim Anang Abdullah selaku ketua ikatan pelukis kalimantan selatan. Fungsionalnya tersebut untuk menghadiri, mengapresiasi, dan bahkan untuk mengkritik juga. Dalam arti mengkritik disini bukan mengkritik yang tidak ada dasar, tapi kritik intelektual seni yang memang memiliki esensi juga didalamnya.

Selain untuk mempamerkan hasil karya seninya, menurut munir pameran ini menjadi salah satu agenda silaturahmi antar seniman di Kalimantan Selatan terkhusus untuk.bertemu lagi dengan seniornya bapak. Misbach Tamrin.

Ada beberapa agenda didalam Arus Zaman Yang Berbeda yaitu pembukaan, ngobrol santuyyy bersama pejabat kesenian kota Banjarbaru yaitu bapak. Wartono mengapresiasi pameran yang ada di kota Banjarbaru ini. Sharing soal karya-karya munir yang dibuat selama 4 bulan lalu dan diperkanalkan ke orang banyak melalui pameran berdikari ini.




Sebenarnya menjadi pertanyaan banyak orang juga, kenapa pameran ini bernama Arus Zaman Yang Berbeda. Menurut munir sendiri arti dari arus zaman yang berbeda ini menggambarkan tentang arus kondisi zaman yang berbeda, arus kondisi yang berbeda, arus berpikir yang berbeda, dan resistensinya juga yang mudah dibangun. Tema yang dibawakan juga berhubungan dengan dirinya, yang mengibaratkan aku ada ditengah sosial masyarkat. Antara hadir dan tidak hadir.

Selain itu dari segi pendanaan pameran ini dihasilkan dari berdikari (berdiri di kaki sendiri) tidak dibantu oleh pemerintah atau lembaga-lembaga apapun.

Namun hanya saja tidak dibantu secara uang namun di support oleh beberapa kelompok seperti pak. Slamet (Petani Ciu Bekonang) dengan memberi diskon minuman ke munir, dari (sebumi) juga soal pakaian. Setelah itu dari beberapa support tadi kembali dijual untuk kebutuhan bertahan hidup saat perjalanan pameran.

------------------

Editor   : Gap
Info      : Baskara
Photo   : Media Siang Malam Banjarbaru
Writer  : Gap