Monday, May 27, 2019

JEF: BAND ANTI KEMAPANAN MELALUI AKSI


Menjual album fisik di era digital kini, tentu jadi PR besar untuk musisi. Apalagi untuk musisi lokal Kalimantan Selatan. Alasannya, minat pembeli rilisan fisik sangat sedikit. Menurut pengakuan Gorey, perwakilan Demajors Banjarmasin, rilisannya yang laku dalam sebulan bisa dihitung dengan jari. Kalaupun ngelapak di event, peningkatan penjualan rilisan fisik tidak signifikan.

Namun PR besar itu diselesaikan oleh JEF, band lokal pengusung karya-karya pop berbahasa daerah. Bukan cuma selesai, band  yang terdiri dari Jefry, Eben, Niluh, dan Winda ini juga dapat nilai bagus dari kerja kerasnya. Ia membuktikan, bahwa karya berbahasa daerah masih banyak pendengarnya. Terbukti dengan penjualan dua album fisiknya, "Waja Sampai Kaputing" dan "Gawi Manuntung", terjual lebih dari 500 keping, dan menghasilkan 15 juta rupiah lebih. Sepengetahuan saya, mungkin ini penjualan rilisan fisik terbanyak untuk musisi lokal yang distribusi penjualannya hanya di Kalimantan Selatan saja. Hebatnya lagi, JEF melakukannya secara berdikari, atau yang lebih akrab di kuping anak indie sebagai gerakan independent.

Jangan ragukan anti kemapanan JEF. Bisa dibilang mereka lebih “anti kemapanan” daripada band punk kebanyakan. Soalnya, 15 juta hasil dari penjualan album, semuanya di donasikan untuk sekolah Bawang, yaitu sekolah untuk anak jalanan. Sekolah Bawang dipilih, kata Jefry, mengingat pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting. "Kami ingin agar para anak jalanan tersebut bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan memiliki masa depan yang cerah," ujarnya.

Nggak selesai sampai situ, JEF juga mempersilahkan lagunya untuk di unduh secara bebas. Dan jika banyak musisi di luar sana yang ngamuk jika lagu-lagunya dipakai tanpa izin, tidak dengan JEF. Band ini memperbolehkan siapapun untuk menggunakan lagu-lagu mereka untuk apapun, termasuk yang sifatnya komersil, asalkan positif. "Lagu kami pernah dipakai di video startup gojek, dan stasiun nasional, tanpa kami mendapatkan bayaran sama sekali (bahkan ada yg tidak menuliskan credit).Tapi kembali ke niat kami di awal berkarya. Kami ingin melestarikan budaya banjar dan bisa memberikan manfaat sebanyak-banyaknya lewat lagu kami. Jadi kami tidak mempermasalahkan hal tersebut," ungkapnya enteng. Lalu dimana para personel JEF mendapatkan keuntungan? Beruntungnya, masing-masing personel tidak menggantungkan nafkahnya hanya dari kegiatan bermusik. Jefry, Eben, Niluh dan Winda, kata Jefry, masing-masing punya pekerjaan dan usaha sendiri. "Kami semua memiliki pekerjaan utama yang bisa memberi kami penghasilan. Selain itu kami juga mendapatkan uang di musik dari hasil penampilan off air, atau proyek-proyek musik lainnya di luar lagu banjar. Intinya kami percaya, tidak akan kekurangan materi dengan semakin banyak memberi. Justru dengan banyak memberi akan semakin memperlancar rezeki kami," terangnya.